Umbi Talas Beneng Dulu Tak Dihidangkan Malah Disembuyikan, Kini Mewah Bahkan Diburu
Thursday, 2nd December, 2021 | 138 Views

ZAMAN SUSAH DAN sulit ekonomi masyarakat di bilangan beberapa kecamatan Kabupaten Pandeglang yang bermukim di kawasan Gunung Karang menjadikan umbi dari talas beneng sebagai kudapan penting.  Itu makanan orang miskin. Makanan orang desa. Makanan orang gunung. Masa itu berlangsung hingga era reformasi, dimana umbi talas beneng sebagai makanan pokok masyarakat di sekitar Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang. Tetapi, kini….umbi talas beneng diburu orang kota. Orang gedongan juga. Konon…,mewah katanya.

    “Itu identik sebagai makanan orang miskin dan masyarakat desa, umbi talas beneng selalu disembunyikan manakala ada tamu luar kecamatan atau dari daerah lain yang datang. Sangat malu jika diketahui bahwa di era kemerdekaan masyarakat masih makan umbi sebagai makanan pokok. Talas beneng tumbuh subur dan liar di kawasan lembah dan punggung gunung, namanya Gunung Karang. Tetapi, kini umbi talas beneng sudah jadi makanan mewah dan diburu banyak orang termasuk dari luar negeri,” petani Iskak (37) bercerita sambil mengibas-ibaskan tangannya yang berlepotan tanah.

        Petani Desa Kadu Kebo, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karang Tanjung Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten bernama Iskak (37) dengan panggilan Ikok di desanya terlihat bersemangat dengan keringat di sekujur tubuhnya. Dia bersama rekan sedesanya, Jumri (45), sedang sibuk membolak-balik daun talas beneng serta ‘gaplek’ berupa rajangan umbi talas beneng yang sedang dijemur mumpung matahari bersinar terik. Mereka berdua menata-nata alat mesin pengolahan bantuan pemerintah.

    Menurut Iskak—sudah sering menjelajah beberapa kota dan desa-desa pertanian dan akhirnya kembali ke desanya—sejarah mencatat di Indonesia banyak ahli makanan dan sering bicara tentang keragaman pangan ala desa dan mementingkan tanaman padi untuk beras. Dan barulah tiga tahun terakhir ini para ahli makanan datang ke desa itu dan juga ke desa-desa lain yang sebelumnya mengandalkan makanan dari umbi talas beneng.

    Dahulu, kata Iskak, masyarakat desa termasuk sanak saudaranya malu menanam talas beneng serta sangat malu kalau dilihat tamu di atas meja ada talas. Sebab, talas beneng itu tidak lebih sebagai tanaman dan makanan orang miskin yang didapat dari hutan, sehingga kalau dilihat orang ada talas beneng ini di sekitar atau di dalam rumah kami, pastilah malu dan buru-buru menyembunyikannya. Berbeda sekarang ini, dimana  talas beneng malah diambil dari hutan dan dibudidayakan  dengan sangat banyak.

    “Akhirnya warga desa dan petani kebun semangat menanam talas beneng itu. Warga rama-ramai ke hutan mengambil bibit atau anakannya dan ditanam di pekarangan. Malah kami sekarang ini bangga desa kami jadi sentra penanaman talas beneng. Tidak seperti masa yang lalu, dimana talas beneng ini hanya tanaman orang melarat,” ungkapnya.

Desa Ramai Terutama Setelah Bantuan Mesin Lengkap

     Iskak bercerita bahwa dua tahun terakhir ini banyak orang datang ke desa itu. Silih berganti setiap hari. Ada pejabat pemerintah dari Jakarta. Dari Serang dan dari Pandeglang sendiri. Bahkan ada juga dari Sumatera dan dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Pulau Bali. Desa menjadi ramai orang-orang berlalu lalang. Bahkan ada juga bule atau orang keturunan Eropa. Mereka semua hanya untuk bertanya siapa yang masih memiliki talas beneng di kebunnya untuk mereka beli.

    “Semenjak viral di media sosial tentang talas beneng, desa kami jadi berkibar-kibar atau ramai. Para pengangguran pun sekarang berbondong-bondong ke ladang mereka untuk menanam talas beneng ini. Malahan yang di hutan sana pun ditanami talas beneng. Mereka izin dulu kepada pihak pemerintah pengelola hutan atau pihak Perum Perhutani  untuk menanam lahannya dengan talas beneng. Apalagi bantuan permesinan semakin lengkap dari Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang, desa ini makin ramai. Banyak kepentingan orang untuk datang,” Iskak bercerita.

      Bersama Jumri, Iskak menanami talas beneng seluas 2 hektare (ha). Itu di ladang dan  sudah panen semua. Dijual dengan harga 1.500 rupiah per satu kilogram (kg) untuk umbi. Untuk daun yang telah menguning harganya mencapai  8.000 rupiah per kg. Nah, untuk daun segar yang masih hijau baru dipotong atau dipanen harganya 1.000 rupiah per kg.

    Jumri juga berujar bahwa untuk luasan 1 ha lahan bisa ditanami  8.000 pokok bibit talas beneng dengan jarak 1 meter kali 1 meter. Itu di bawah tegakan pepohonon. Untuk satu hektare bisa menghasilkan 10 ton umbi. Itu minimal dengan umur 10 bulan. Kalau setahun atau lebih bisa hingga 12 ton.

    “Memang, kalau yang bagus itu talas beneng ini dipanen umur  satu setengah tahun karena aci atau pati yang dihasilkan semakin bagus kalau talas beneng ini nantinya ditepung. Kalau umur 18 bulan atau satu tahun setengah  tahun tinggi talas beneng itu saat dipanen bisa 50 centimeter (cm) dengan berat mencapai 25 kg,” katanya.

     Nah, itu dia, kata Jumri,  untuk satu pohon berumur 18 bulan kalau dikali 1.500 rupiah per kg, maka petani bisa mendapatkan uang  sebanyak 37.500 rupiah. Sekali lagi angka rupiah itu  baru satu pohon. Kalau 1 ha dengan jumlah hingga 8.000 pohon atau 10.000 pohon? Pastilah taraf hidup para petani desa akan meningkat dalam waktu dekat ini terutama setalah pemerintah memberi bantuan alat pengolah dan pengering yang moderen.

    “Itu dari mentahnya saja. Belum lagi daun yang harus dipanen setiap 4 bulan sekali untuk dirajang karena permintaan untuk itu sudah banyak. Pastilah kebutuhan rumah tangga para petani akan tertutupi. Dan pastilah akan bisa menabung,” sebut Jamri.

     Iskak melanjutkan, untuk panganan keripik, talas berumur 1 tahun sudah bisa dipanen. Tetapi, untuk pembuatan  gaplek sebagai calon tepung, umur talas beneng 8 bulan sudah bisa dipanen. Namun. Apabila para petani bisa bersabar umur tanaman setahun setengah sangat bagus untuk pembuatan bahan baku tepung karena aci atau patinya banyak.

    Khusus pembuatan keripik talas beneng, di desa itu dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di dalam kelompok pembinaan kesejahteraan keluarga atau PKK. Mereka mengupas talas beneng itu kemudian talas warna putih dibuang sampai dapat talas warna kuning saja. Umbi warna kuning itu ada di tengah-tengah batang talas. Lalu diiris-iris tipis terus direndam dengan air garam. Proses perendaman dengan air garam ini tidak perlu lama karena kegunaannya hanya untuk menghilangkan rasa gatal dari talas beneng tersebut.

     Dan agar telapak atau tangan para wanita tidak gatal, ketika mengupas maupun mengiris talas beneng itu mereka memakai sarung tangan plastik. Memang tangan mereka tidak akan gatal saat pengolahan awal. Setelah itulah irisan atau rajangan umbi dijemur selama 1 atau 2 hari. Itu kalau matahari panas. Jadi, bisa saja lebih dari dua hari karena tergantung sinar matahari. Para perempuan itu akan menggoreng talas dengan beragam ras, yaitu pedas, asin dan tawar atau asli.

Bantuan Alsintan Tiba Cara Mengolah Jadi Beda

    Menurut Iskak dan Jumri, setelah ada bantuan dari Balai Besar Pascapanen, Badan Litbang Kementerian Pertanian, cara mengolah sudah beda. Sudah baru sama sekali. Sebab, rumah jemur atau home ultra violet (HOP) talas sudah bisa dijemur dan pasti lebih bersih. Untuk sementara waktu talas yang bisa dijemur di rumah pengeringan sekitar 2 kuintal atau sekitar 200 kilo per hari atau sekeringnya. Melalui rumah ultra violet itu para petani di Desa Kadu Kebo sangat terbantu. Sebab, para petani tidak khawatir lagi kalau musim penghujan datang. Petani bisa terus berproduksi tanpa takut kalau kualitas talas yang dihasilkan akan rusak gara-gara proses pengeringan terganggu.

     Terkait hal itu Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang Asep Mahfudin,SP berujar bahwa unit bantuan rumah jemur ini bisa membantu semua kegiatan, bukan hanya pembuatan keripik, untuk tepung pun sudah bisa dan lancar. Sebab, proses pengeringan setelah dari mesin pengiris bisa langsung masuk ke rumah jemur yang kapasitasnya sama, yaitu sekitar 200 kg  untuk satu proses. Semua alat pengolahan dan mesin yang diterima Gapoktan Juhut Mandiri dari Balai Besar Pascapanen itu merupakan bagian dari program Riset Pengembangan Inovatif  Kolaboratif (RPIK) untuk talas beneng.

    Kalau sinar matahari bagus satu hari talas sudah sempurna keringnya. Tetapi, kalau musim penghujan seperti sekarang bisa 2 atau 3 hari baru kering. Keuntungannya adalah bermutu bagus. Disebut talas beneng atau Be Neng adalah BESAR dan KONENG (KUNING), kalau akan diolah kulit warna putih harus dibuang sampai terlipat daging atau umbi warna KUNING.  *sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

DAMPAK PANDEMI CORONA virus-19 pada sektor pendidikan sangat signifikan mengubah perilaku maupun program studi pada perguruan tinggi.  Perubahan itu telah mempengaruhi kalangan kampus melakukan inovasi dan