Jagung-Ayam dan Petani-Peternak: Berharap Peran BULOG Aktif Bersimbiose Mutualistis Agar Harga Tidak Murah, Namun Stabil
Sunday, 17th December, 2023 | 792 Views

KINI PARA PETANI di Kecamatan Suko Rejo, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) sedang bersemangat menanam jagung untuk bahan baku pakan ternak. Beberapa kelompok tani (keltan) mendapat bantuan dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP), Kementerian Pertanian (Kementan). Bantuan itu berupa sarana produksi (Saprodi), berupa benih, pupuk dan pemusnah rerumputan atau herbisida. Petani peternak berharap peran BULOG aktif bersimbiose mutualistis agar harga tidak murah, namun stabil, Dengan demikian, kejadian 2019 saat Virus Korona, peternak disubsidi petani jagung 100 rupiah per kilogram (kg) agar bisa mengolah pakan tidak terulang lagi.

 

    Menurut Rohmat (57), peternak ayam Desa Kali Pakis, Kecamatan Sukorejo, terkait komoditi jagung selalu ada persoalan. Walaupun selalu berinteraksi dengan petani jagung, ketika harga telur jatuh pada 2019 itu harga jagung justru tinggi.

   “Para peternak heran melihat petani jagung itu. Ketika mereka mendengar harga jagung tinggi mereka beramai-ramai menanam jagung, sehingga ketika panen harga jagung itu merosot lantaran produksi melimpah di pasaran. Namun, ketika harga jagung itu turun, petani mengganti dengan komoditi yang lain,” demikian cerita Rohmat pada pertemuan antara peternak dan petani jagung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukorejo.

   Pertemuan itu difasilitasi oleh para penyuluh dengan mengundang peternak dan para petani. Petani yang hadir adalah Ketua Kelopok Tani Simental Desa Kali Pakis Farukh (47),  Ketua Kelompok Tani Maju Terus Wahyu Hidayat (46). Hadir juga petani jagung Desa Kali Pakis, yaitu Juandi (32) dan Mahyun (38). Sementara dari BPP Suko Rejo adalah Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Eko Budiyaningsih,SP, Budi Wijayanti dan Edi Susanto. Berpartisipasi juga dalam acara itu Pejabat Subkoordinasi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal Wildan Yonansyah,STP dan Purwanto,SP.

   Rokhmat menambakan bahwa hal itu menjadi masalah karena petani jagung di kawasan itu hanya menanam jagung satu musim. Oleh sebab itu para petani bersama peternak berharap agar ke depan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) ikut campur tangan membeli jagung, sehingga harga jagung stabil. Dengan demikian, petani mau terus menanam jagung dan harganya stabil dan selalu tersedia di pasaran.

   “Kami mengharapkan harga jagung itu stabil terus dan ketersediaan selalu ada, sehingga para peternak ayam bisa merasakan dampak baiknya. Bagi kami peternak kecil, harga jagung bisa terjangkau dan mudah didapat,” katanya sembari menambahkan apabila suatu saat petani tidak menanam jagung, peternak bisa membelinya di gudang Perum Bulog dengan harga tidak tinggi.

Asal Laku Dari Kandang

    Saat ini Rokhmat memelihara sebanyak 3.000 ekor ayam petelur dengan harga yang bervariasi setiap hari. Kalau yang membeli itu pengepul harganya bisa standar, tetapi kalau yang membeli itu pihak perusahaan Pusaka, perbedaan harga bisa mencapai 2.000 rupiah per kilogram (kg). Contoh, kalau harga sudah mencapai 20.000 rupiah per kg, pihak Pusaka menentukan sendiri harganya 18.000 rupiah per kg. Dan hal seperti itu selalu terjadi.

    Disebutkan pula bahwa kalau sebelumnya untung 1 juta rupiah sudah cukup karena biaya operasionalnya masih kecil. Tetapi, saat ini dengan uang 1 juta rupiah itu tidak mencukupi, sehingga harga telur di pasaran dipaksakan kurang dari 25.000 rupiah per kg. Akibatnya peternak rakyat merugi.

   Dia menambahkan, pada minggu pertama Desember 2023 harga telur di kandang peternakannya satu peti berisi 10 kg mencapai 215.000 rupiah. Kemudian di tingkat peternak 23.000 rupiah. Harga itu masih berbeda lagi kalau sudah di pasar. Kendaraan pangangkut untuk satu rit berisi 5 ton, tetapi ada juga yang berisi 2 ton. Saat ini harga telah peternak rakyat sangat tergantung pada harga pakan, sehingga yang penting laku dari kadang.

     Selanjutnya Rokhmat mengungkapkan bahwa dia mengolah sendiri pakan untuk ayamnya, yaitu 50 kg konsentrat dicampur jagung 75 kg dan katul 25 kg. Jumlah itu setiap hari untuk konsumsi 3.000 ekor ayam dengan konsumsi 1,2 ons untuk seekor ayam atau 120 kg untuk konsumsi 1.000 ekor ayam.

   “Untuk ketersediaan bahan baku pakan saya cadangkan setiap satu minggu, dimana setiap kali telur ayam laku saya langsung belanja pakan. Jadi, bisa dibilang hampir tidak ada ketersediaan di gudang untuk bahan pakan ternak itu. Jika keuangan cukup dan harga telur tinggi, saya ingin menyediakan pakan untuk satu bulan agar tidak pusing oleh harga yang naik-turun,” katanya sambal menambahkan konsentrat yang sangat mahal disbanding bahan lainnya harus beli buatan parbrik karena belum diajarkan membuat sendiri.

   Menurut Rokhmat, pada minggu pertama Desember 2023 harga jagung mencapai 6.700 rupiah per  kg untuk jagung kering pipil pecah. Untuk 1.000 ekor ayam petelur untungnya hanya 100.000 rupiah setiap hari. Tetapi, kalau dirata-rata keuntungan bersih per hari 200.000 rupiah dari 1.000 ekor telur. Untuk 3.000 ekor itu keuntungan bersih sekitar 600.000 rupiah setiap hari. Dan itu hanya bisa dinikmati selama 25 minggu masa produktif ayam petelur karena selepas itu produksi telur akan turun terus hampir tidak menguntungkan lagi. Secepatnya harus diregenerasi.

   Para peternak ayam rakyat berharap ada bimbingan teknis pembuatan konsentrat dari Kementeri Pertanian, sehingga kemampuan menyediakan pakan ternak lebih memadai atau bisa menekan biaya pakan. Sampai sekarang para peternak tidak bisa membuat konsentrat karena tidak memahami usnur-unsur di dalamnya.

Pilihan Benih Sedikit

   Menurut Farukh (47), Ketua Kelompok Tani Simental Desa Kali Pakis, Kecamatan Suko Rejo, saat ini para petani di kelompoknya 30 orang dengan lahan garapan seluas 15 hektare (ha). Sejak Oktober 2023 petani telah menanm jagung dengan beberapa varietas dan diharapkan akan panen pada Januari 2024 mendatang.

   “Karena di desa kami pertanamannya adalah jagung-jagung-padi, para petani menanam jagung secara swadaya. Tidak ada bantuan dari pihak lain. Saya sendiri hanya memiliki lahan seluas 3.000 meter persegi yang semuanya butuh 3 kg benih dengan jagung dengan varietas MK. Ternyata di lahan kami jenis itu tidak begitu bagus lantaran sering terserang penyakit bulai kuning. Itu terjadi karena tidak ada pilihan benih lain dan juga harganya murah. Petani memilih yang murah,” kata Farukh.

   Menurut dia, umur jagung itu sekarang sudah 45 hari, tetapi belum berbunga. Namun, beruntung juga bahwa tanaman yang terserang bulai kuning daun itu diberi pupuk organik kembali hijau bagus. Tetapi, menurut penyuluh pertanian lapangan atau PPL kalau tanaman jagungnya bulai atau kuning harus dicabut dan tidak diganti karena dikawatirkan nanti bulai atau kuning lagi. Karena penyakit itu masih tertinggal di dalam tanah.

   “Kami kesulitan memastikan kenapa penyakit bulai itu muncul. Sebab, serangannya selalu tidak merata pada seluruh lahan, terkadang pada lahan saya ada, di lahan tetangga tidak ada. Begitu juga di lahan yang lain tidak ada, pada tanaman jagung petani sebelahnya ada. Kami bigung kenapa ini terjadi. Para petani berharap ada bantuan traktor untuk mengolah lahan sekaligus untuk menyingkirkan penyakit,” demikian Farukh dan menambahkan pada 2022 mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian berupa benih, pupuk organik cair serta pestisida.

   Menurut dia, pada pertanaman April dan Mei 2023 ini hasil dari 3.000 meter persegi pada Agustus 2023 itu mencapai 15 kuintal atau sekitar 1,5 ton. Harga sedang bagus mencapai 5.300 rupiah per kg. Diharapkan pada masa panen mendatang harga jagung juga bagus termasuk harga telur agar perekonomian petani dan peternak tidak terombang-ambing.

  Harga Bawah 5.500 Rupiah

   Perjanjian yang pernah dibuat dengan memberi subsidi sebesar 100 rupiah per kg kepada peternak ayam, pada 2022 tidak berlaku lagi karena harga jagung sudah turun. Peternak rakyat tidak meminta turun harga 100 rupiah itu lagi karena harga telur pada 2022 sudah bagus.

   “Nah, pada awal Desember 2023 ini harga telur bagus harga jagung juga bagus, sehingga perjanjian itu tidak berlaku lagi. Bahkan itu tidak berlaku sepanjang 2022 yang lalu,” ungkap Wahyu Hidayat, Ketua Kelompok Tani Maju Terus Desa Tri Mulyo yang menyediakan lahan 50 hektare (ha) di wilayah empat dusun dengan 170 petani.

   Kendati demikian, lahan tersebut hanya sekitar 30 ha yang ditanami jagung. Selebihnya sudah ditanami kopi, jambu dan hortikultur. Pada 2022 yang lalu petani mendapatkan bantuan benih jagung untuk 15 ha dan pada November 2023 mendapat bantuan untuk luasan 20 ha berupa benih, pupuk organik cair 80 liter, penyubur tanah 100 kg, herbisida 40 liter dan pupuk NPK sebanyak 2 ton.

   Menurut Wahyu, para petani berharap harga jagung  bisa stabil di kisaran 5.500 rupiah per kg paling bawah, sehingga petani dapat beruntung sedikit. Kalau di bawah itu semisal harga jagung 4.700 rupiah per kg itu petani tidak mendapat untung. Kalau harga pada minggu kedua Desember 2023 ini hanya 5.300 rupiah per kg, tetapi itu hanya memberi untung yang sangat tipis untuk dapur, sekolah anak juga dana sewa lahan berikutnya lagi.

  Selanjutnya Ketua Kelompok Lembu Soro Desa Kali Bogor, Kecamatan Suko Rejo Suparno (34), mengungkapkan sedang menggarap lahan seluas 37 ha oleh anggota 40 petani. Tetapi, saat ini hanya 20 ha yang ditanami secara serentak dengan benih bantuan dari Kementerian Pertanian.

   “Kami para petani di Kelompok Tani Lembu Suro mengharapkan saat panen pada Maret 2024 mendatang produktivitasnya mencapai minimal 5,8 to per ha. Ini perkiraan petani. Minimal segitu. Selain itu juga diharapkan harganya tetap memihak kepada petani,” demikian Suparno.

Manajemen Penyimpanan Jagung

   Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal Pandu Rapriat Rogojati,SP kepada Media Pertanian online www.sembadapangan.com menyampaikan bahwa peternak di Kabupaten Kendal sudah pernah mendapat bantuan pengering jagung, yaitu petani di Kecamatan Plososari. Namun, peralatan itu belum bisa dipakai karena bermasalah pada tenaga yang menjalankannya. Selain itu biaya operasionalnya besar.

 Menurut  Pandu, para petani membandingkan alat itu melalui penjemuran dengan matahari, sehingga menggunakan alat penggering itu dianggap tidak sebanding jika upah dikenakan sekitar 100 rupiah per kg. Dengan demikian, mesin itu terkadang berhenti digunakan jika panen jagung menumpuk saja. Waktu selebihnya berhenti dan tergantung kebutuhan petani untuk mengeringkan jagung mereka.

  “Memang peternak di Plososari diberi bantuan vertical dryer karena setiap tahun terjadi permasalahan untuk komoditas jagung. Di sana populasi ayam petelur adalah terbesar kedua secara nasional setelah Blitar. Dan kalau berhitung  kebutuhan pakan ayam ras di Kendal juga surplus. Bahkan bahkan sangat cukup,” ungkap Pandu.

     Disebutkan, terkadang manajemen untuk menyimpan jagung itu yang menjadi masalah karena kebutuhan pakan untuk ternak rutin dibutuhkan dan menetap setiap harinya,  sedangkan produksi jagung itu per empat bulan baru panen. Jadi, semestinya ketika terjadi panen jagung serentak pengusaha ayam ras tersebut melakukan penyimpanan jagung tersebut.

    Dia menambahkan, petani peternak rakyat untuk ayam memang terkendala gudang dan modal kerja. Pada saat menyimpan jagung itu petani ingin hasil panen jagung dibayar tunai, sementara peternak ayam membayar dalam jumlah besar untuk menjadikan jagung itu sebagai stok tidak memiliki dana atau modal yang cukup.

   Para petani jagung di Kendal sudah terikat kontrak tidak resmi dengan pabrikan-pabrikan. Contoh, petani sudah terikat dengan perusahaan Charoen Pokphand Indonesia (CPI) untuk semua produk jagung yang dihasilkan. Sebab, CPI sudah memiliki kepanjangan tangan yang memiliki enam penyumpul besar untuk wilayah Kendal.

   “Agar keenam pengepul yang menjadi kepanjangan tangan CPI mendapat jaminan barang berupa jagung,  mereka akan menanam orang untuk setiap wilayah, kaki tangan yang mereka tanam ini yang mempunyai tugas bekerjasama dengan petani. Mereka akan mendekati petani dan menawarkan apa saja yang menjadi kebutuhan petani lebih dahulu sebelum panen jagung itu sendiri terlaksana,” katanya.

   Selanjutnya dikatakan bahwa  apabila petani butuh benih, pupuk dan saprodi lainnya pihak CPI langsung beri di depan lalu setelah panen baru itu diganti. Bahkan butuh bayar uang sekolah, mau ambil motor diberikan dulu pinjaman dan model itu berlanjut terus menerus. Justru kontrak tidak tertulis itu ikatannya dengan para petani malah sangat kuat. Sebab, di saat petani membutuhkan uang tunai selalu ada dan tidak pernah ditolak.

   Dikatakan pula dampak dari perikatan yang seperti ini otomatis membuat petani kita merugi karena petani bukan lagi sebagai penentu harga. Petani kita akan ditentukan harga jagungnya oleh perusahaan. Peternak kecil lain yang ingin membeli jagung kepada petani tidak bisa karena secara tidak tertulis sudah ada kontrak dengan pabrikan dengan perikatan berupa pinjaman itu. Hal ini belum bisa dipecahkan hingga sekarang. *sembada/henry/rori

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang