Kecamatan Air Saleh, Banyuasin: Penerima Bantuan Benih Harus Petani Pada Kelompok Tani Resmi
Monday, 20th November, 2023 | 721 Views

UNTUK MEMASTIKAN PETANI penerima benih bantuan pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan), pihak Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) ke Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Tim yang dipimpin Koordinator Fungsional Pengawasan Mutu Benih Direktorat Perbenihan Ahmad Yusuf,STP,MM itu menemui petani di Kecamatan Rambutan, Kecamatan Air Saleh dan Kecamatan Muara Telang. Didampingi Staf Dinas Pertanian Provinsi Sumsel Mustopa Jaya,SP dan Staf Direktorat Perbenihan Agro Prasetya, SP berikut ini pesan Ahmad Yusuf kepada para petani di Kecamatan Air Saleh, di pertengahan November 2023 ini. Silakan disimak.

     Maksud kedatangan kami ke sini adalah melakukan monitoring dan evaluasi terkait bantuan benih. Kegiatan ini harus kami lakukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan yang terjadi di lapangan oleh petani dan kelompok tani yang sanggup melaksanakan kegiatan tersebut dengan cara olah tanah dan tabur benih serta tanam padi. Tentu untuk semua itu ada tahapan yang harus dilalui. Contohnya, bagaimana posisi benih itu ditanam lalu tumbuh, kemudian dipanen dan menjadi beras.  Untuk Desa Sri mulyo diperlukan catatan-catatan per kelompok yang harus ditandatangani sebagai bukti bahwa monitoring dan evaluasi ke desa dan kelompok tani yang ada di sini sudah terlaksana dan diakui oleh para petani.

    Dengan demikian, benih yang sudah diberikan itu apakah sudah diterima dengan baik, apakah realisasi seluruh benih itu sudah tepat jumlah dan apakah posisi benih saat ini sudah ditanam atau belum. Semua keadaan itu yang kita lihat pada hari ini. Apakah benih yang sudah disalurkan itu sesuai dengan nomor lot atau tidak. Sebab, nomor lot itu juga sangat penting untuk diketahui atas asal dari benih itu darimana  dan spesifikasi tehnisnya itu seperti apa atau daya tumbuhnya seperti apa. Itulah pentingnya kenapa kita melakukan evaluasi termasuk mengetahui juga nomor lot untuk menelusuri, misalnya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan benih tersebut bisa segera diteluri dengan cepat dan tepat.

    Apabila terjadi masalah pada benih, seperti yang saya sebutkan di atas tadi, maka kita harus mengetahui nomor lot yang ada walaupun hal seperti itu jarang terjadi. Tetapi, kejadian dimana benih tidak bisa tumbuh dengan baik pernah ditemukan. Namun, semoga saja bantuan benih yang diberikan di desa ini tidak seperti itu. Benih-benih yang kita berikan itu tidak masuk ke dalam kendala-kendala yang saya sebutkan tadi.

   Kegiatan ini kami harapkan bisa menjadi pengungkit produksi yang selama ini mungkin di bawah rata-rata di daerah sawah tanah hujan seperti di Kecamatan Air Saleh ini. Melalui kedatangan bantuan benih diharapkan bisa meningkatkan produksi karena benih yang baik itu 50 persen menentukan tingkat produksinya. Jadi kalau benihnya bagus, itu 50 persen produksi padinya sudah pasti bagus. Tinggal menyesuaikan dengan input-input yang lain, seperti pemberian pupuk dan penanganan organisme pengganggu tanaman atau hama. Terkait dengan hal tersebut harus diberikan dan ditingkatkan untuk mencapai produksi yang bisa menghasilkan nilai 100 persen.

      Sambil mengisi fomulir yang kami bawa untuk diisi kita akan melakukan bincang-bincang meliputi apa saja yang menjadi kendala di sini. Lali seperti apa harapan teman-teman petani, apa lagi yang dibutuhkan di sini selain benih. Pemerintah perlu mengetahui aspirasi petani dan mencatat apa saja yang menjadi kebutuhan petani untuk disampaikan ke pusat.

     Kami akan mencoba membantu mencarikan solusinya atas kendala yang teman-teman petani hadapi. Mungkin kendala kekurangan pupuk jika masih ada di pusat akan diusahakan. Mungkin juga di sini kekurangan traktor nanti akan kami sampaikan semua apa saja yang menjadi harapan petani. Dengan demikian, hal itu bisa menjadi pendukung peningkatan produksi untu ketahanan pangan di kawasan ini dan penguatan ketahanan pangan secara nasional.

Petani Paham Inovasi Teknologi

     Namun, dari pengamatan saya teman-teman petani yang ada di desa ini terlihat sudah maju dalam mengolah lahan sawahnya dengan mengunakan teknologi pertanian sebagaimana mestinya. Buktinya, petani sudah mendapatkan hasil yang sudah baik dan melebihi dari produksi dari wilayah lainnya. Mungkin ilmunya sudah cukup cara bertani secara moderen, sehingga menghasilkan produksi yang maksimal dan banyak.

      Di desa ini ada 17 kelompok tani yang diharapkan semuanya bisa hadir pada hari ini untuk mengisi formulir yang sudah disiapkan. Namun, pengurusyang hadir sudah ada pengurus 10 kelomok tani dan lainnya bisa menyusul. Terkait dengan nomor lot itu sangat penting karena dengan nomor lot yang sudah terdata itu kita akan melakukan penyesuaian nantinya.

   Seandainya nomor itupun tertukar ke desa lain tinggal disesuaikan saja. Itu hanya untuk memudahkan penyelusuran bahwa nomor lot sudah masuk ke desa ini dan memudahkan kami mengidentifikasinya. Memang terkadang nomor lot itu tercampur atau tertukar dengan desa lain, tetapi pada dasarnya itu tidak menjadi masalah karena benih yang disalurkan itu varieras unggul semua. Teman petani tidak usah kawatir kalau benih ini akan gagal tumbuh karena benih itu sampai kemari sudah melalui beberapa tahapan sehingga gagal tumbuh itu sudah kecil sekali Untuk itu ketika mulai tumbuh kami akan melakukan pengawasan dan petani agar selalu melapor kepada petugas yang ada di lapangan.

    Namun dengan benih varietas unggul yang ada sekarang dipastikan sudah melalui seleksi ketat, sehingga pengecualian seperti itu kecil sekali. Nah, pesan saya terakhir teman-teman para petani jangan mencampur benih itu dengan varietas lain karena bantuan dari pusat hanya 25 kilogram (kg) untuk satu hektare (ha), sedangkan petani yang ada di sini menggunakan 60 kg per ha.

Pola Tabur Benih Langsung

    Menurut Suswanto, Ketua Kelompok Tani (Keltan) Margo Tani B yang beranggotakan 33 petani dan menggarapa lahan seluas 36 ha, pada musim panen yang lalu hasil yang didapat sangat mengecewakan. Untuk lahan seluas 1 ha hanya dapat 78 karung gabah kering panen (GKP), di mana isi satu karung adalah 70 kg.

    “Hasil yang buruk itu disebabkan serangan ribuan tikus sekaligus. Tikur berbaris-baris ribuan seperti bebek tidak henti setiap hari. Kendati kecewa, karena harga gabah mencapai 5.200 rupiah per kg, maka petani bisa tertolong dari kerugian besar. Kalau harga murah, pasti kami para petani akan menderita karena biaya yang dikeluarkan mencapai 4 juta rupiah untuk 1 ha,” demikian Suswanto sembari menambahkan benih yang ditanam adalah varietas Inbrida Padi Irigasi (Inpari)-32.

    Selanjutnya Ketua Kelompok Tani Usaha Tani Jamal mengatakan untuk pola tabela oleh 33 petani binaannya dengan menggarap 60 ha sawah diperlukan benih sebanyak 80 kg per ha. Pada musim tanam yang lalu juga dibutuhkan sebanyak 80 kg per ha tersebut karena dicadangkan untuk penyulaman. Alasan memakai pola tabela adalah untuk mengurangi waktu dan biaya tenaga kerja. Apabila disemai waktu yang diperlukan memindahkan dan mencocok mencapai 32 hari per ha. Upah tenaga kerja satu haru dengan makan minum kopi dua kali mencapai 80.000 rupiah per hari per orang. Kalau sampai 32 hari tentu harus mengeluarkan dana yang sangat besar.

  Menanggapi hal itu Koordinator Fungsional Pengawasan Mutu Benih Direktorat Perbenihan Ahmad Yusuf,STP,MM menyampaikan dorongan semangat dan meminta laporan pada setiap tahapan pemeliharaan tanaman agar menjadi penilaian di kantor pusat. Ke-13 keltan penerima bantuan benih yang diwakili 10 pengurus keltan adalah Made Kadek (Keltan) Karya Bakti, Samingun (Kaya Makmur), Arifin (Karya Tani), Abdul Hamid (Marga Tani A) dan Suswanto (Margo Tani B). Selanjutnya Darno (Makti Tani), Slamet (Sumber Makmur), Rasiman (Tani Mulyo), Tri Harmoko (Sumber Rezeki) dan Jamal Ketua Keltan Usaha Tani.

* sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang