Beras Cimanuk Tak Mudah Basi, Pulen dan Harum Bahkan Enak Tanpa Lauk
Thursday, 4th January, 2024 | 356 Views

MASYARAKAT KABUPATEN PANDEGLANG menyayangkan pertanaman padi Cimanuk semakin sedikit beberapa tahun belakangan ini. Ternyata hal itu lebih disebabkan pemakaian lahan pertanian untuk industri dan perumahan yang tidak terkendali, padahal nasi atau beras Cimanuk sangat digemari dan dicari konsumen dari berbagai daerah termasuk dari luar Pandeglang.

    Menurut Ketua Kelompok Tani Ronggeng Desa Batu Ampar H.Didin Taufik Rahman, para petani di wilayahnya masih sangat berminat untuk menanam padi Cimanuk itu. Para petani yang berumur di atas 45 tahunan termasuk para keturunannya sering mengidam-idamkan beras Cimanuk yang sudah terkenal berciri khas.

     “Saya dari dulu sudah menjadi pertani. Anak saya juga ada yang ingin menjadi pertani secara moderen walaupun sudah bergaul dengan warga perkotaan. Selain untuk perumahan dan untuk industri atau pabrik, lahan pertanian juga diambil dari saluran irigasi,” Didin (56) bercerita di penggilingan miliknya di Desa Batu Ampar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, beberapa waktu lalu.

    Kepada Kirtana Aska Brata,SP,MAP, Staf Tim Kerja Pengawas Mutu, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Tanaman Pangan (PPHTP), Kementerian Pertanian (Kementan), Didin bercerita bahwa dahulu kala ketika masih kanak orangtuanya sudah sering memperbincangkan bahwa padi Cimanuk yang menjadi beras Cimanuk itu kalau sudah dimasak jadi nasi dipastikan tidak mudah basi. Bisa bertahan beberapa hari tanpa dipanaskan.

   “Selain itu nasi dari beras Cimanuk beraroma harum dan nasinya pulen. Bahkan memakan nasi Cimanuk sudah merasa enak dan nikmat walau tanpa ikan atau tanpa lauk pauk. Ya, nikmat tanpa lauk pauk. Tanpa sambal pun sudah nikmat. Bahkan bisa nambah sepiring lagi atau setengah piring, juga tanpa lauk itu. Keadaan demikian bukanlah keluarga petani di sini miskin tidak mampu beli ikan. Bukan. Kalau terkait dengan ikan-ikanan untuk lauk mah gampang atuh, di sawah banyak ikan berbagai jenis. Tinggal jaring atau mancing sudah dapat banyak dan diolah. Bukan begitu, tetapi memang nasi Cimanuk itu enak dan nikmat,” kata Didin. Dia didampingi Koordinator Penyuluh Kecamatan Cimanuk Imam Kudratullah,SP, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Gunung Cupu, Kecamatan Cimanuk Siti Fatimah,SP dan Pelaksana PMHP,DPKP Pandeglang Rizki Kurniawan.

Ngangebot Pake Arit

    Pemilik penggilingan Desa Batu Bantar Didin Taufik Rahan mengatakan bahwa saat tiba padi menguning para petani ngangebot pake arit—memanen pekai air—saja di kawasan itu karena tractor pemanen atau combine harvester tidak bisa masuk. Sebab, permukaan lahan yang ditanami panen tidak rata bahkan berpetak-petak tinggi rendah. Saat panen para petani pemilik sawah menyabit sendiri. Saat ini Kelompok Tani Ronggeng beranggotakan 40 orang dengan garapan seluruhnya seluas 25 hektare (ha) dengan pertanaman padi-padi-palawija.

     Selanjutnya dikatakan, pada panen April 2023 produksinya hanya mencapai 5,4 ton per ha. Dan pada panen kedua di Agustus 2023 yang hasilnya juga sama, yaitu 5,4 ton per ha. Adapun harga gabah kering panen atau GKP adalah berkisar antara 5.800 rupiah per kilogram (kg) hingga 6.000 rupiah per kg, sedangkan untuk padi kering giling atau GKG adalah 7.000 rupiah per kg. Harga beras beragam antara 12.000 rupiah per kg hingga 14.000 rupiah per kg.

    “Kami para petani senang sekali dengan harga tersebut di tengah kesulitan mendapat pupuk dan harus membeli dengan harga ahal. Jadi, harga yang mencapai 12.000 rupiah per kg atau 220.000 rupiah per 25 kg kami senang,” ungkap Didin.

   Disebutkan pula bahwa lantai pengering gabah untuk digiling adalah berupa oven dengan kapasitas 6 ton sekali proses antara pukul 06.00 hingga 02.00 subuh. Setelah itu dimasukkan ke mesin pemecah kulit dan seterusnya ke polisher dan masuk ke goni/karung bermuatan 25 kg atau sesuai penanan konsumen.

   Dalam kaitan itu Aska Kirtana Brata menyampaikan bahwa ke depan lingkungan penggilingan padi atau rice milling unit (RMU) milik Haji Didin kebersihannya ditingkatkan yang meliputi permesinan, mekanis pengolah padi, lantai dan rumah penggilingan itu sendiri. Sebab, binis perberasan ke depan harus dimampukan atau diberdayakan bersaing untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus pemilik penggilingan.

   “Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Tanaman Pangan saat ini mengumpulkan data para petani dalam kelompoknya, luasan lahan sawah, varietas padi yang dibudi-dayakan dan hasil panen untuk setiap hektarnya. Selain itu juga sedang didata penggilingan-penggilingan yang ada berikut kapasitas maupun keadaan luar dalamnya yang dalam waktu tidak terlalu lama akan menjadi ukuran dalam memasukkan beras kepada konsumen. Dalam hal ini konsumen akan memilih beras yang sudah memiliki sertifikasi kelayakan produksi sebagai jaminan mutu. Pemerintah berharap petani lebih maju dan makin maju,” demikian Aska Kirtana Brata sembari mencatat data tentang petani, luas persawahan, keadaan penggilingan sekaligus bertanya-jawab terkait permasalahn yang dihadapi petani. *sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang