Pertumbuhan Sektor Pertanian Melambat Jelang Pemilu
Saturday, 18th November, 2023 | 364 Views
|
Oleh Drh M.AChairul Arifin-Pemerihati Sektor Pertanian Nasional dan Internasional

Drh M.Chairul Arifin

SEPANJANG 2023 INI pertumbuhan perekonomian global telah diproyeksikan melambat, sementara itu menurut laporan IMF World Economic Outlok October 2023 sebagaimana dikutip oleh BPS (2023) pertumbuhan ekonomi negara berkembang diproyeksikan tumbuh di atas pertumbuhan global dan negara maju.

    Pada 2023 ekonomi global hanya tumbuh 3,5 persen dan negara maju 2,6 persen, sedangkan negara berkembang mampu tumbuh 4,1 persen. Pelambatan perekonomian global adalah merupakan akibat El Nino, perang Urkraina dan Rusia dan terakhir serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober lalu serta pengaruh perubahan iklim dan pemanasan global.

Pengaruh pada Pertanian Indonesia

    Keadaan tersebut di atas sangat berpengaruh pada sektor pertanian Indonesia yang sedikit banyak terpengaruh dari situasi global. Pertumbuhan Indonesia juga terpengaruh dan ikut melambat 4,94 persen selama triwulan III (year on year/y-o-y), dimana sektor pertanian dilaporkan oleh BPS (2023)   selama 10 tahun terakhir melambat terus yang semula 4 persen pada 2012  selanjutnya turun menjadi 3 – 4 persen. Kemudian  turun terus menjadi 2 – 3 persen dan terakhir pada 2022 menjadi 1,95 persen yang turun lagi pada tri wulan ketiga 2023 menjadi 1,46 persen

   Penurunan pertumbuhan sektor pertanian ini  selain dampak global juga pertanian kita  belum mampu meningkatkan produksi untuk memenuhi  tingkat konsumsi akibat pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Akibatnya arus deras impor produk pertanian kita, seperti  beras, jagung, kedelai,  daging sapi , bawang putih, gula,  dan garam  meningkat terus.

Pertumbuhan Beberapa Subsektor

    Pertumbuhan subsektor selama tri wulan ke tiga tahun ini ditunjukkan dari sektor pertanian dalam  arti luas  yang turun dari 1,95 persen menjadi 1,46 persen (y-o-y) . Penurunan ini nampak dari sub sektor tanaman pangan masih turun dari -5,41 persen ke – 1,47 persen. Hortikultura  anjlok dari 5,92 persen ke 3,41 persen,  sedangkan perkebunan lebih melorot lagi, yaitu dari   2,35 persen ke -1,10 persen. Untuk peternakan dan kesehatan hewan jauh menurun dari 6,19 persem ke 2,66  persen.

   Gambaran ini menunjukkan bahwa selama tri wulan ke III (y-o-y)  sub sektor menurun semua. Penurunan tanaman pangan sangat dipengaruhi oleh El Nino, perubahan iklim yang berpengaruh kepada produksi padi, jagung dan kedelai. Demikian jugs untuk hortikultura peningkatan produksinya terganggu oleh  perubahan iklim yang ekstrim.  Perkebunan yang menjadi primadona ekspor terganggu karena harga kelapa sawit dan karet turun di tingkat global. Peternakan dan kesehatan hewan yang dimotori oleh peternakan unggas ras terpengaruh  karena kenaikan harga pakan  dan bahan baku pakan  terutama jagung.

Langkah Strategis

    Untuk itu diperlukan langkah strategis penanggulangan keadaan ini, selain tetap menggenjot produksi juga patut mempertimbangkan strategi diversifikasi yang masih jalan di tempat untuk mengurangi gelombang impor, tetapi diversifikasi yang berbasiskan komoditi lokal. Tidak seperti sekarang malah impor gandum. Memang langkah ini membutuhkan waktu.

    Demikian sekilas yang sedikit memberikan gambaran cukup penurunan pertumbuhan pertanian Indonesia  pada tri wulan ketiga di tengah  arus geoekonomi dan politik internasional, dampak El Nino  yang berpengaruh kepada kelancaran  arus supplay  chain  komoditi pertanian di tingkat global dan saat menjelang pemilu. *

Depok, November 2023

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang