Demi Lumbung Pangan Dunia,Melalui Bimtek Intensif Kini Gema Bio SAKA Merasuk Hati Petani Indonesia
Friday, 30th June, 2023 | 777 Views
|
Oleh Ugi Sugiharto, SIP,MM --Tim Leader Bimtek Propaktani, Ditjen Tanaman Pangan

 

Tim Leader Bimtek Propaktani, Kementerian Pertnian (Foto:sembada/henry)

Tim Leader Bimtek Propaktani, Kementerian Pertanian (Foto:sembada/henry)

PERUBAHAN IKLIM DUNIA telah menghadirkan berbagai persoalan terhadap semua makhluk hidup tak terkecuali tanaman di bidang pertanian. Tantangan terbesar pada sektor pertanian adalah volume produksi panen untuk memenuhi atau mencukupi kebutuhan manusia. Terkait Indonesia, ini ada inovasi teknologi yang dikembangkan justru oleh petani, yaitu bio SAKA yang lazim juga disebut bio Selamatkan Alam Kembali ke Alam (SAKA) yang berasal dari ramuan beragam daun tumbuhan yang hidup tersebar di sekitar tempat tinggal petani. Beberapa jenis dedaunan—5 hingga 6 kuntum—diremas bercampur air bersih sampai halus. Airnya, ramuan ini dinamai Bio SAKA. 

   Bio SAKA adalah teknologi murah yang bahannya mudah didapat oleh kelompok tani. Satu dari beberapa kelebihan Bio SAKA adalah poteni mengurangi penggunaan pupuk sekitar 50 persen. Dengan demikian, diharapkan hama bisa diatasi dengan Bio SAKA dan karena sifatnya menggunakan pengendalian secara alami, maka akan terjadi keseimbangan dalam ekosistem. Artinya, keberadaan organisme pengganggu tumbuhan tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis, sehingga lingkungan tetap terjaga. Kondisi tersebut luar biasa karena sangat menguntungkan para petani di seanterao nusantara.

    Ternyata sejak 2019 Bio SAKA telah dipraktikkan oleh petani di Blitar, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Cairan yang terbentuk bewarna hijau kecokelatan dimasukkan pada wadah botol atau wadah lain yang tertutup, dimana sewaktu-waktu bisa dipakai pada tanaman semusim (padi, jagung, kedelai, sorgum dll), tanaman hortikultura (sayur mayur, nenas dll) atau pada tanaman keras, seperti kopi. Bio SAKA berperan memperkuat pertahanan tanaman melawan berbagai kondisi maupun situasi yang merusak termasuk hama, sehingga tanaman berkembang sehat, kuat dan memberi hasil yang besar. Untuk satu tanki seukuran 16 liter, Bio SAKA cukup 40 mililiter (ml) pada padi, jagung dan kedelai dan 10 ml pada sayur-mayur. Penyemprotan berjarak satu (1) meter dari puncak dedaunan dengan cara dikabutkan.

    Kendati demikian, Bio SAKA baru mulai dikenal oleh masyarakat luas sejak awal Mei 2022, dimana dalam suasana Idul Fitri Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Dr Suwandi menemukan Bio SAKA di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Bio SAKA yang digagas dan dikembangkan oleh M. Ansar sudah diterapkan pada tanaman padi yang siap dipanen. Bersama para petani Dr Suwandi melakukan panen padi di areal lahan yang telah diaplikasikan Bio SAKA itu.

Dibahas di Dunia Nyata dan Dunia Maya

   Bio SAKA sangat menarik perhatian Dr Suwandi karena selain sederhana dan bahan mudah diperoleh, Bio SAKA itu juga disebut-sebut para petani dapat mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Ini menjadi oase di saat para petani dihadapkan pada persoalan pupuk sebagai imbas dari perang Rusia-Ukraina. Ukraina dan Rusia adalah negara-negara pemasok utama bahan baku pupuk ke Indonesia.

   Pada gilirannya Bio SAKA malah menjadi topik pembicaraan menarik di dunia nyata maupun dunia maya yang mengusik nalar dan mendobrak cara-cara lama petani dalam berbudi daya tanaman. Khalayak terheran-heran karena hanya segenggam rumput-rumputan atau dedaunan bisa begitu besar manfaatnya untuk tanaman budi-daya. Semua kalangan, mulai dari petani, petugas, penyuluh, penelit, akademisi, eksekutif, dan legislatif mulai membicarakan Bio SAKA itu.

    Suasana dan keadaan pro dan kontra pun dimulai. Ada petani yang langsung mencoba membuat dan praktik Bio SAKA, ada juga yang masih ragu-ragu dan cenderung wait and see menunggu bukti dari Bio SAKA. Bahkan ada juga yang menolak Bio SAKA tersebut. Hal itu terjadi pula di kalangan pemangku kebijakan, peneliti, akademisi, dan pata petugas di lapangan. Beragam tanggapan masyarakat atas kehadiran sebuah inovasi di tengah-tengah mereka.

   Dalam meresponsi Bio SAKA sebagai inovasi baru, selaras dengan teori adopsi teknologi Rogers (1983), masyarakat dapat dibedakan ke dalam lima kelompok, yaitu pertama innovator (perintis). Kelompok ini merupakan kelompok pertama dalam melakukan adopsi Bio SAKA dengan persentasenya sekitar 2,5 persen dari populasi. Mereka memiliki antusiame yang tinggi dalam mengadopsi hal-hal yang baru. Kedua, early adopter (pelopor), di mana kelompok ini merupakan tercepat kedua dalam melakukan adopsi Bio SAKA dengan persentasenya sekitar 13,5 persen  dari populasi. Kelompok kedua ini memiliki tingkat inovasi rata-rata yang tidak terlalu jauh dibandingkan dengan individu lain, namun mereka menjadi panutan atau pegangan dan berpengaruh.

   Ketiga, early majority (mayoritas awal), di mana kelompok ini memiliki tingkat adopsi Bio SAKA yang lebih lama dibanding innovator dan early adopter dengan persentasenya sekitar 34 persen dari populasi. Kelompok ini membutuhkan argumentasi yang _rasional menurut mereka, sebelum mereka mengadopsi sebuah inovasi. Mereka akan melakukan kajian, penelitian atau demplot dan sebagainya untuk memberikan keyakinan yang memadai atau pembuktian sebelum mereka mengaplikasikannya pada skala yang lebih luas.

   Keempat, late majority (mayoritas akhir), di mana kelompok ini akan mengadopsi Biosaka setelah kelompok yang lain mengadopsinya dengan persentasenya sekitar 34 persen dari populasi. Kelompok ini belakangan mengadopsi Bio SAKA dan mereka akan mengadopsi Bio SAKA setelah orang di sekitarnya mengikuti dan menerapkan Bio SAKA. Kelima, laggards  (kolot), di mana kelompok yang terakhir ini merupakan kelompok yang serba ragu atau skeptis terhadap Bio SAKA dengan persentasenya sekitar 16 persendari populasi. Mereka terjebak dalam zona nyaman, baik cara berpikir, cara bekerja, dan cara hidupnya dengan kebiasaan-kebiasaan lama selama ini.

Bimbingan Teknis dan Sosialisasi

   Setelah kunjungan ke Blitar pada 5 Mei 2022 Bio SAKA mulai dipetkenalkan ke luar wilayah Blitar, di mana pertama kali diangkat pada webinar Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTSP) Propaktani pada 10 Mei 2022 dengan mengangkat topik Inovasi Seru Bercocok Tanam yang Murah Meriah (Teknik Bio SAKA dan Tanpa Pupuk Kimia). Pada saat itu baru Ansar sebagai penggagas Bio SAKA yang bisa membuat Bio SAKA. Kemudian setelah Ansar bertemu dengan Profesor Robert Manurung dan Doketer Hanson di Bandung, diketahui bahwa Bio SAKA dapat dibuat oleh siapa saja dengan syarat sesuai standar operasi dan prosedur (SOP) yang dilakukan oleh sang penggagas.

   Atas dasar itu Bio SAKA berpeluang besar untuk dapat direplikasi di seluruh pelosok negeri. Hal tersebut ditegaskan juga pada webinar Propaktani dengan topik Inovasi dan Peningkatan Produksi Tanaman Pangan pada 17 Mei 2022. Hal itu dilaksanakan secara hybrid di Jawa Barat, sehingga kemudian Bio SAKA mulai disosialisasikan dan para petugas dan petani mulai berlatih memilih, meramu, dan aplikasi Bio SAKA. Nah, tentu Bio SAKA menjadi harapan petani, selain meningkatkan produksi juga berkaitan dengan efisiensi usaha tani. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terus mendorong agar petani bisa membuat sendiri Bio SAKA, memilah bahan, meramu, dan mengaplikasikannya pada berbagai tanaman yang dibudidayakan.

    Sosialisasi Bio SAKA kemudian dilakukan secara masif melalui beberapa hal, yakni  Sosialisasi dan bimbingan teknis Biosaka BTS Propaktani, Sosialisasi melalui media sosial (Youtube, Instagram, Tiktok, Facebook) dan Sosialisasi melalui WA Group Biosaka baik di level pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. Kemudian Bimbingan teknis untuk para pembina Bio SAKA, Bimbingan teknis Bio SAKA pada berbagal jenjang, seperti provinsi, kabupaten/kota dan balai penyuluhan pertanian dan  Studi banding Bro SAKA ke Bitar serta  Sistem getok tular antar petani.

   Selanjutnya Bio SAKA mulai diaplikasikan di luar Blitar dengan pilot projects demplot pengaplikasian Bio SAKA pada tanaman padi, jagung, dan kedelai di Provinsi Jawa Tengah masing-masing di Kabupaten Blora, Grobogan, Sragen, dan Klaten. Pada 2-29 Mel 2022  petugas dan penyuluh di lokasi demplot dilatih langsung oleh penggagas Bio SAKA, yaitu Ansar yang didampingi pejabat dari Kementerian Pertanian dan dari kampus Institut Teknologi Bandung serta dari Institut Pertanian Bogor. Sejak itulah lahir potensi-potensi baru memberikan harapan Bio SAKA bisa direplikasi.

  Pada Juni 2022 dilakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) pembuatan Bio SAKA di Balai Besar Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (BBPOPT) Jatisari, Kabupaten Subang, Jawa Barat yang dihadiri perwakilan petugas POPT dari Karawang, Purwakarta, Indramayu, dan sekitarnya. Dalam kesempatan itu sekaligus menandai adanya demplot-demplot Bio SAKA di wilayah Jawa Barat. Bimbingan sejenis dilanjutkan pada Juli 2022 dengan sosialisasi dan Bimtek Biosaka bagi petugas POPT Jawa Barat di kantor Balai Penelitian Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Jawa Barat. Seterusnya pada Agustus 2022 Bio SAKA mulai digerakkan ke Sumatera dan Nusa Tenggara melalui Bimtek Biosaka di Deli Serdang, Sumatera Utara dan di Pulau Sumba Provinsi Nusa Tenggara Timur.

   Semenjak itu Bio SAKA mulai menyebar di wilayah tersebut. Kemudian pada September 2022 publikasi hasil demplot Bio SAKA menunjukkan bukti Bio SAKA dapat direplikasi dan tentu saja produktivitas bagus serta terjadi efisiensi biaya usaha tani. Pada Oktober 2022 Bio SAKA menuju Sulawesi, dimana penggagas Bio SAKA melakukan Bimtek Bio SAKA di Mamuju, Sulawesi Barat. Kemudian November 2022 Bio SAKA masuk Provinsi Banten melalui Bimtek yang dilaksanakan di Serang, Banten.Pada Desember 2022 Bio SAKA masuk ke Provinsi Bali melalui Bimtek yang dilaksanakan di Denpasar. Begitu pun di berbagai wilayah lain di Indonesia pada akhir 2022, di mana Bio SAKA menjadi menu utama sosialisasi dan bimbingan teknis bersama petugas dan petani.

   Memasuki 2023 Bimtek Bio SAKA semakin masif diselenggarakan dan hingga media 2023 ini sudah 34 provinsi sudah melakuka sosialisasi dan Bimtek Bio SAKA. Agenda Propaktani sebagai satu Program Direktorat Jenderal  Tanaman Pangan Kementeran Pertanian yang setiap hari menyelenggarakan Bimbingan Teknis Sosialisasi (BTS Propaktani) secara on-line naupun off-line serta layanan dukungan lalnnya.

   BTS Propaktani membekali para petani, penyuluh, petugas lapangan, dan masyarakat serta pihak yang berkecimpung dalam pertanian dengan pengetahuan dan keterampilan dalam membangun serta mengembangkan sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Bahkan termasuk di dalamnya sosialisasi dan pelatihan Bio SAKA yang terus gencar diselenggarakan di berbagai daerah dan disiarkan secara langsung di seluruh Indonesia melalui kanal zoom meeting, youtube, dan media sosial lainnya.  Berbagai pihak mengharapkan melalui inovasi teknologi, seperti Bio SAKA  itu Indonesia bisa mewujudkan lumbung pangan dunia. Ya, semoga.

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang