Pertanian Subang Diserbu Pentaheliks, Ada Apa, Mengapa dan Kapan …?
Wednesday, 4th October, 2023 | 658 Views

 

PIHAK PENTAHELIKS SEJAK akhir September 2023 resmi menyerbu sektor pertanian Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar). Kalangan tersebut adalah pihak kampus atau Akademika, Pebisnis, Komunitas, Pemerintah dan Mass Media. Diketahui bahwa sebagai peringkat ketiga lumbung pangan nasional yang ditetapkan pemerintah hanya Kabupaten Subang di Indonesia yang konsisten mempertahankan lahan pertanian tetap untuk tanaman pangan.   

     “Pentaheliks telah hadir hari ini dan menyerbu sektor pertanian Kabupaten Subang. Masyarakat Subang bangga dan juga kebanggaan bagi saya selaku perwakilan pemerintah daerah datang ke sawah yang sedang menguning ini untuk melakukan panen bersama. Faktanya telah terjadi suatu kolaborasi yang di era moderen ini lazim disebut dengan PENTAHELIKS atau pentahelix, yaitu kebersamaan pihak kampus, pebisnis, himpunan masyarakat atau komunitas kelompok tani, pemerintah pusat dan daerah serta kalangan media massa,” demikian penegasan Wakil Bupati Kabupaten Subang Agus Masykur sesaat sebelum melakukan panen bersama petani di Desa Kiarasari, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, belum lama berselang.

     Menuai padi bersama petani dengan tema sentral Panen Padi Kampung Inovasi IPB Subang itu diselenggarakan dengan Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr Suryo Wiyono, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Tanaman Pangan (PPHTP), Kementerian Pertanian Batara Siagian, SP,MAB yang merupakan alumi IPB Bogor, Direktur PT Polowijo Ir Wahyudi yang merupakan alumi IPB Bogor, Petani Pejuang DPC Himpunan Alumni (HA) IPB Kabupaten Subang Deni Nurhadyansah,SP dan para jurnalis dari beberapa media massa.

     Sebelumnya telah dilakukan penandatangan nota kesepahaman antara Kementerian Pertanian melalui Direktur PPHTP Batara Siagian dengan Institut Pertanian Bogor melalui Dekan Fakultas Pertanian Suryo Wiyono. Kesepahaman tersebut adalah menyangkut bantuan Kementerian Pertanian yang antara lain alsintan pengolahan berikut pergudangan lengkap dengan sistem in and out produk pertanian.

    Menurut Agus Masykur, pentaheliks merupakan suatu proses pembangunan di suatu tempat, sebagaimana kini menuju ke arah Subang yang lebih baik dan makin baik ke depan. Oleh sebab itu mau tidak mau seluruh stakeholders harus berpartisipasi atau terlibat secara bergotong-royong. Pentahelix atau pentaheliks itu sering juga disebut dengan  ABCGM, Academics (ilmuwan kampus melalui IPB Bogor)-Businessmen (pengusaha melalui PT Polowijo)-Community (komunitas kelompok tani dan Himpunan Alumni IPB)-Government (pemberintah pusat melalui Kementerian Pertanian dan daerah melalui Kabupaten Subang)-Mass Media atau jusnalis setempat serta dari pusat.

     Disebutkan pula bahwa proses ketika Subang melakukan kerjasama dengan Himpunan Alumni IPB, dimana Kabupaten Subang merupakan satu-satunya kabupaten  yang masih mampu mempertahankan lahan pertaniannya. Memang begitulah keadaannya karena Kabupaten Subang telah menjadi tiga besar lumbung padi nasional. Saat ini luas lahan sawah Kabupaten Subang mencapai 85.000 hektare (ha).

    “Untuk mempertahankan ketahanan pangan melalui produksi, maka beragam inovasi dan efisiensi sangat dibutuhkan,  yaitu melalui kerjasama efisiensi budidaya hulu hingga hilir. Hal tersebut mencakup pengolahan tanah, pemeliharaan persemaian benih, pemindahan bibit, pemupukan hayati secara terukur, penanganan hama dan penyakit, pemanenan hingga pasca panen dan seterusnya pengolahan hasil dan pengemasan pemasaran. Semua itu menjadi satu dengan tingkat efisiensi yang tinggi,” ungkap wakil bupati.

Bisnis Padi Dengan Polowijo Gosari

     Mewakili Direksi PT Polowijo Gosari yang menjadi pihak pembeli padi atau gabah petani di Desa Kiarasari, Kecamatan Compreng, Ir Wahyudi mengatakan bahwa penggunaan pupuk hayati menjadi keharusan bagi para pihak yang terlibat di sektor pertanian. Sebab, selama puluhan tahun terakhir penggunaan pupuk kimia sangat tinggi, tetapi produktivitas tidak meningkat dan hal itu telah menimbulkan kelelahan dan kejenuhan pada tanah.

      “Lahan di Indonesia saat ini telah sakit atau tidak sehat lagi termauk di Kabupaten Subang. Selain itu potential Hidrogen atau pH tanah dan unsur hara tidak cukup. Untuk itu diperlukan bakteri atau pupuk hayati yang mengandung unsur bakteri. Untuk menormalkan tanah yang sakit itu diperlukan pupuk hayati sebanyak 800 kilogram (kg) per ha. Dari penerapan pupuk hayati di Kampung Inovasi IPB di Desa Kiarasari pada lahan 500 ha yang dikelola oleh Himpunan IPB bersama petani telah menghasilkan antara 9 ton hingga 10 ton per ha atau dengan penigkatan produktivitas hingga 20 persen,” demikian Wahyudi sembari menambahkan bahwa para anggota Himpunan Alumni IPB Kabupaten Subang senantiasa membicarakan bagaimana bisnis input maupun output sektor pertanian untuk menguntungkan semua pihak.

      Hal yang menarik, sebut Wahyudi, selain produktivitas yang meningkat ternyata rendemen padi juga meningkat. Contoh, sebelum penerapan pupuk hayati yang mengandung mineral bakteri rendemen untuk wilayah Subang hanya 55 persen. Kalau menggunakan produk pupuk hayati yang mengandung unsur bakteri bisa mencapai 60 persen.

    Ketika menyampaikan laporan mengenai Panen Padi Kampung Inovasi IPB Subang itu Deni  Nurhadiyansah mengemukakan bahwa sarjana lulusan IPB telah berupaya keras dengan ikhlas melakukan gerakan moral di desa. Gerakan tersebut adalah untuk mengembangkan kampung inovasi. Sebanyak 300 sarjana dari IPB saat ini berada di Kabupaten Subang.

     “Hal ini luar biasa dari berbagai segi karena sarjana rela mengabdi kepada masyarakat secara nyata dengan cara mudik ke desa masing-masing. Sebab, bisa dikatakan sangat jarang sebanyak di sini sarjana yang balik ke desanya untuk hidup bersama petani sekaligus menjadi petani,” sebut Deni sembari menambahkan bahwa sarjana lulusan IPB mendatang yang berasal dari Subang akan ikut bergabung balik ke desa mereka. *sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang