Kec.Terisi, Indramayu: Beras Petani Desa Kami Sendiri Akan Punya Logo dan Label Sendiri
Friday, 8th December, 2023 | 250 Views

 

“Kami sangat gembira dan bersyukur mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHTP), Kementerian Pertanian berupa mesin sablon kemasan karung beras. Hal ini tak terduga. Sekali lagi kami berterima kasih. Ke depan beras yang kami hasilkan akan punya logo atau label dari petani desa kami sendiri.”

    Itulah ungkapan ikhlas Ketua Kelompok Tani Aulia Jaya Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi Husni Mubarak dan Pelaksana Penggilingan Padi Desa Rajasinga Sofyan. Para petani tersebut ditemui di desa itu berkaitan dengan kedatangan mesin bantuan Kementerian Pertanian melalui Kelompok Tani Aulia Jaya.

   Menurut Sofyan, beberapa petani sedang dilibatkan untuk menjalankan mesin sablon kemasan beras tersebut. Sebab, apabila ada yang berhalangan, petani lain bisa langsung menjalankan mesin tanpa menunggu terutama apabila ada pesanan dari perusahaan penggilingan yang memerlukan pencetakan atau penyablonan kemasan beras milik mereka.

   Dia menambahkan bahwa apabila percobaan demi percobaan sudah sempurna dan diikuti beberapa petani yang berminat, karung atau goni untuk kemasan beras berbagai ukuran akan segera dicetak. Hal itu akan dimulai dari penggilingan yang dikelola di desa tersebut. Saat ini dua petani, yaitu Daryo (48) dan Taruni (39) telah agak mengoperasikan mesin tersebut. Dalam beberapa minggu ke depan diharapkan sudah paham betul dan bisa mengalihkan pengetahuan mereka kepada petani lain yang berminat atau ditunjuk untuk mengoperasikannya.

Penggilingan Tetap Jalan

   Di tempat yang sama Husni Mubarak menyebutkan bahwa kendati saat ini panen telah berakhir di kawasan Indramayu, gabah tetap ada untuk digiling. Saat ini gabah kering panen (GKP) didapat dari Kabupaten Pemalang karena di sana sedang panen. Adapun harga GKP di sana adalah 700.000 rupiah per kuintal (kui) atau 7.000 rupiah per kilogram (kg) langsung angkut.

   Langsung angkut berarti gabah dari sawah sudah dimasukkan ke dalam truk. Satu truk pengangkut adalah berkapasitas 10 ton. Pada awal Desember ini didapat 10 truk atau totalnya 100 ton dan akan diambil lagi ke Kabupaten Pemalang dalam jumlah yang sama. Dalam bentuk beras harga premium pada awal Desember adalah 13.000.000 rupiah per kuintal (kui) atau 13.000 rupiah per kg, sedangkan untuk beras medium seharga 12.000 rupiah per kg.

    Selanjutnya dikatakan agar penggilingan atau slepan tetap dijalankan, maka karyawan akan mencari ke kabupaten lain untuk mendapatkan gabah, seperti ke Kabupaten Sragen atau Kabupaten Klaten. Gabah yang diangkat dari Jawa Tengah itu langsung ditaburkan di lantai pengering berkapasitas 30 ton sekali proses selama 24 jam dengan semburan pemanas dari mesin berbahan bakar solar sebanyak 40 liter. Rata-rata gabah siap giling setelah dikeringkan mencapai 20 ton per hari dan dapat beras sekitar 15 ton per hari.

   “Nah, karena selama ini kami belum punya kemasan bertuliskan nama produksi berupa logo, melalui bantuan Kementerian Pertanian itu nantinya kami sudah bisa punya nama. Kami sangat bangga tentu saja,” katanya.

   Adapun hasil samping dari penggilingan tersebut adalah berupa bekatul atau dedak. Produk tersebut yang dijual seharga 4.700 rupiah per kg untuk masih agak kasar, sedangkan bekatul yang sudah halus dijual seharga 5.000 rupiah per kg. Bekatul tersebut dibeli pengusaha peternakan dan perikanan di kawasan itu termasuk pedagang dari luar Indramayu. *sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang