Jagung Kab.Demak Dilanda Banjir Seluas 115 Ha Masih Bisa Dipanen, Tapi Harga ….! Tak Sesuai Harapan Lagi
Monday, 1st April, 2024 | 203 Views

 

 

KENDATI TELAH DIGENANGI banjir dalam bilangan mingguan pada Februarai 2024 pada lahan seluas 115 hektare (ha), para petani di sentra jagung Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yaitu di Kecamatan Karangawen masih sempat panen. Harganya memang merosot karena mutu sudah rusak.

     Petani Desa Rejo Sari, Karang Pacing, Kecamatan Karangawen, Nurkolis (40) bercerita lahan miliknya seluas setengah hektare (0,5 ha) yang pada cuaca normal menghasilkan jagung kering pipil sebanyak 3,5 ton, tetapi karena dilanda banjir hanya menghasilkan 7 kuintal atau 700 kilogram (kg). Benih yang diperlukan untuk luasan tersebut mencapai 12 kg.

    Menurut Nurkolis, saat ini para petani jagung desa tersebut berjumlah 120 orang dan guyub pada Kelompok Tani Trisno Makaryo II. Seluruh lahan pertanaman yang ada sudah dilanda banjir. Pada penghujung Maret ini air telah surut. Bahkan sebagian lahan yang ada sudah ditanam benih, tetapi yang tumbuh baik hanya sebagian. Lainnya tidak berdaya karena tanah masih terlalu basah atau becek.

   Secara terpihak, Staf Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak, Rizal Muttaqin menyebutkan bahwa dampak banjir paada lahan 115 ha  di sentra jagung Kecamatan Karangawen telah mengalami puso atau tak bisa diolah dipanen sama sekali seluas 18 ha.

   “Artinya, jagung dengan luasan tersisa sekitar 97 hektar itu bisa memang masih bisa dipanen ketika banjir surut jagung. Adapun profitasnya dari hasil ubinan mencapai 8,5 kg atau sebanyak 13,5 ton per ha,” demikian Rizal.

    Dia menambahkan bahwa saat panen harga jagung hanya 4.800 rupiah per kg. Hal terseut disebabkan mutu jagung yang ada sudah rendah akibat rendaman air selama berhari-hari. Selain itu juga panen di sentra jagung berlangsung serentak, sehingga harga turun. Dampak banjir dan puso itu dialami petani  yang tergabung di empat kelompok dengan luas 18 ha. Pada akhir Maret ini banjir telah surut total dan lahan sudah bisa diolah untuk menanam jagung kembali.

Di Beberapa Desa Puso

    Banjir di Kabupaten Demak pada Februari, yaitu di Desa Bumi Rejo, Kecamatan Karangawen luas tanaman jagung jenis hibrida yang mencapai 115 hektare (ha) berumur antara 70 hari hingga 80 hari. Dari luasan itu yang tergenang adalah 25 ha dan telah surut seluruhnya. Tidak ada puso.

    Untuk Desa Sido Rejo luas tanaman jagung adalah 216  ha, di mana yang tergenang mencapai 60 ha dan telah surut seluas 47 ha dan puso seluas 10 ha dengan umur antara 70 ha hingga 80 ha. Di Desa Rejo Sari luas jagung mencapai  20 ha dan yang tergenang dan puso mencapai seluruhnya, di mana umur tanaman sudah  antara 40 hari hingga 60 hari. Untuk Kecamatan Karangawen luas tanaman jagung yang tergenang  mencapai 121 ha.

   Dari informasi yang dihimpun Media Pertanian online www.sembadapangan.com, penyebab banjir dan genangan dengan curah hujan yang sangat tinggi terus-menerus itu menyebabkan Sungai Setu meluap ke areal pertanaman. Selain itu curah hujan yang sangat tinggi juga telah menyebabkan daya tampung Sungai Cabean dan berakibat tanggul Wangun dan Singopadu melampaui batas kemudian rubuh dan air melimpah meluluh-lantakkan persawahan dan ladang petani.

   Menurut Koordinator Penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Karangawen, Siswati,SP lahan pertanaman jagung yang dianggap puso masih bisa ditanam sulam. Di kawasan itu terjadi dua kali banjir, di mana saat yang pertama tanaman jagung yang puso mencapai 18 ha dan pada banjir kedua di Desa Bumi Rejo sudah disulami oleh petani,

   “Jadi, lahan yang dilaporkan puso itu ada di tiga desa, yaitu desa Rejo Sari, Situ Rejo dan Desa Sido Rejo dengan total area seluas 23 ha. Kemudian pada genangan banjir kedua itu dampaknya pada Desa Bumi Rejo pada lahan seluas 5 ha. Di lahan petani masih bisa tanam sulam karena umur jagung masih muda sekitar 10 hari,” katanya.

Pompanisasi Untuk Antisipasi

  Ia menambahkan, sesungguhnya sangat kasihan kepada petani. Sebab, pemupukan tahap pertama sudah dilakukan dan puso sekitar 5 ha yang telah berumur sekitar 15 hari dan mati semua. Seluruh tanaman tidak bisa dimanfaatkan termasuk untuk pakan ternak karena sudah membusuk.

   “Semua petani jagung di sentra pertanaman Kabupaten Demak ini adalah swadaya sendiri. Murni mereka tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah pusat dan daerah. Kendati petani dan para penyuluh berharap mendapat bantuan dari pemerintah, namun sampai sekarang belum ada informasi tentang hal itu,” Wati bercerita.

   Setelah menghadapi keadaan seperti itu, para penyuluh hanya bisa memberi saran kepada petani untuk melakukan tanam ulang lantaran tanamannya sudah rusak dan busuk. Para penyuluh menganjurkan kepada petani untuk memilih varietas yang bagus dan mengikuti jarak tanaman sesuai dengan standard pertanaman yang baik atau good farming agricukture serta menggalakkan pomparisasi.

   Terkait dengan pompanisasi, demkian Siswati, bagaimana membuang air yang tergenang pada lahan pertanaman. Dan masalah tersebut secara bertahap sudah tertangani, di mana gerakan pompanisasi itu telah dilaksanakan selama beberapa hari ketika banjir masih menggenangi lahan petani. Pompa-pompa itu disewa dan dipinjam petani dari beberapa pihak. Pelaksanaannya dibantu pihak, seperti Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari Komando Rayon Militer (Koramil) dan Bayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) dari Kepolisian Sektor (Poksek).

  Tetapi, kenyataannya air yang sudah masuk di lahan petani itu tidak bisa keluar dan terperangkap saja di lahan karena posisi tanggul itu lebih tinggi dari lahan petani. Limpahan dari sungai yang meluap otomatis air tidak bisa surut dan terperangkap di lahan petani, sehingga untuk mengeringkan lahan dibutuhkan pompa berkekuatan besar.

Tanggul Tidak Terawat

  Menurut Koordinator Penyuluh BPP Karangawen Siswati,SP, apabila penanganan tanggul dan tali air tidak komprehensif, dipastikan  semua tanggul akan jebol atau rubuh sepanjang tahun. Sebab, satu penyebab banjir yang ditengarai para petani adalah pendangkalan kali di Demak yang luar biasa. BPP Karangawen itu melayani sebanyak 12 desa sekitarnya dengan luasan baku lahan jagung 1.624 ha.

   Memang ketika banjir terjadi dan kali jebol petani atau masyarakat paling menambal dengan karung yang diisi pasir. Tetapi, berapalah kekuatan karung yang berpasir menahan tekanan air yang datang dengan kuat dan dahsyat? Pastilah akan jebol lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama dan akan berulang lagi. *sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang