Suparmin:Jalani Tugas Kekarantinaan Apa Adanya, Wagimin: Tapi Tetap Profesional
Sunday, 18th April, 2021 | 238 Views

KENDATI MASIH TERBATAS infrastruktur atau peralatan canggih, para staf kekarantinaan di Balai Karantina Cilegon tetap bergiat dan melaksanakan aktivitas apa adanya. Namun demikian, para staf menjalankan tugas dengan profesional karena keterbatasan adalah tantangan untuk tetap kreatif menyiasati kondisi dan situasi.

       Kenyataan tersebut secara terpisah diungkapkan oleh Suparmin,SE,MSi, Kepala Tata Usaha (KTU) Balai Karantina Kelas II Cilegon Banten, Provinsi Banten dan Drh Wagimin, Staf Sub Koordinator Kesehatan Hewan Balai Karantina Kelas II Cilegon, Provinsi Banten. Mereka berbicara di sela kunjungan kerja (kunker) Kepala Badan Karantina, Kementerian Pertanian Dr Ir Ali Jamil dan Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan Ir Janaidi,MM.

     “Pembagian untuk tim yang bekerja bergiliran ada tiga tahap yang mulai bekerja pukul 07.30, tahap kedua pukul 15.30 dan ketiga pukul 23.30 atau masing-masing delapan jam. Kondisinya seperti itu. Jadi, kami menjalankan tugas apa adanya saja. Untuk  satu tim terdiri dari 4 petugas jaga di kantor, dimana petugas di lapangan dan di pos jaga masing-masing juga empat orang. Jadi, setiap hari petugas yang berjaga ada 12 orang,” demikian Suparmin.

    Dia menambahkan bahwa tenaga kerja atau petugas yang bekerja antara 10 orang hingga 12 orang setiap hari memang tidak mencukupi kebutuhan. Artinya, tenaga yang bekerja seharusnya ditambah lagi. Kendati demikian semua staf tetap bekerja keras karena memang itu sudah menjadi tugas pelayanan yang wajib dilaksanakan secara maksimal.

   Menurut dia, petugas karantina di Balai Karantina Cilegon tidak pernah mengeluh karena termotivasi untuk memenuhi sasaran atau target optimal. Selain itu mekanisme kerja dijalankan dengan memberdayakan tenaga yang ada. Memang untuk wilayah kerja yang luas dan padat seperti Pelabuhan Penyeberangan Merak idealnya harus dilayani sebanyak 140 petugas karantina, padahal saat ini baru 60 orang.

Profesional dan Optimalisasi Pos Pantau

       Terkait dengan hal itu Wagimin mengungkapkan bahwa di Pos Pantau Karantina yang baru berdiri pada Januari 2021 tidak dilakukan sertifikasi. Para petugas hanya mengamati dengan memanfaatkan sistem yang telah baku paling tidak hingga saat ini. Semua barang yang masuk dari Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni, Provinsi Lampung  sudah menjadi target pemeriksaan walaupun tidak semuanya bisa terpantau. Di Pelabuhan Bakauheni sudah ada pos atau loket, dimana petugas sudah melengkapi datanya yang bisa diakses secara langsung di Pelabuhan Merak, Provinsi Banten.

    “Dengan sistem yang ada di Lampung untuk mengetahui kendaraan-kendaraan yang mengangkut barang atau komoditi pertanian baik olahan maupun hidup, barang lolos dari pemeriksaan akan semakin kecil. Jadi, untuk pengawasan barang keluar dan masuk dari pelabuhan dari waktu ke waktu sudah makin meningkat kualitasnya. Hal itu juga menunjukkan profesionalisme petugas dengan optimalisasi Pos Pantau,” demikian Wagimin.

          Dia menyebutkan bahwa ke depan fasilitas kekarantinaan di Pelabuhan Merak akan ditambah untuk meningkatkan pelayanan dan mutu satuan kerja. Alat atau fasilitas tersebut adalah semacam scanner atau X-ray jenis portable karena obyek pemantauan di pelabuhan adalah kendaraan bermotor roda dua, roda tiga dan roda empat, bus, truk serta tronton.

        Selain alat yang makin canggih Badan Karantina Pertanian atau Balai Karantina Cilegon telah melakukan terobosan baru, yaitu menugaskan staf intelijen berpartisipasi dalam pelayaran ke Pelabuhan Bakauheni dan sebaliknya. Alhasil, terlihat positif sekali karena kepatuhan masyarakat terhadap produk pertanian dengan produk subsektor peternakan, tanaman pangan meliputi padi, jagung, kedelai dan umbi-umbian, hortikultura termasuk tanaman hias sudah makin baik. Diharapkan ke depan kepatuhan dan kesadaran masyarakat untuk melaporkan barang bawaan antarpulau semakin meningkat pula. *sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

PADA MEDIA MARET lalu pihak Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional (SPs UNAS) melakukan lawatan akademis di tiga universitas di Ukraina. Lawatan itu untuk merealisasi kerjasama antarperguruan