Maja Satu Kecamatan di Majalengka Jadi Sentra Jagung Dengan Luasan 3.000 Ha (Partisipasi BRIN 50 Ha Segera Panen)
Thursday, 12th October, 2023 | 980 Views

 

PARA PETANI KECAMATAN Maja, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat kini merasa senang dan bangga mendapatkan harga jagung yang sangat baik dan tinggi. Para petani berharap hasil tanaman mereka bagus dengan produksi yang meningkat dan hasilnya menggembirakan. Diharapkan ketika panen di November 2023 harga makin tinggi melebihi 6.000 rupiah per kilogram (kg) pada awal Oktober ini. Potensi pertanaman komoditas jagung di Kecamatan Maja adalah 3.000 hektare (ha) dan menjadi sentra jagung di Majalengka.

     Hal tersebut dinyatakan oleh Koordinator Penyuluh Kecamatan Maja Erwan Ferdiyansah, SP di Kantor Balai Pelayanan Pertanian Kecamatan Maja, Majalengka belum lama ini. Dia didampingi Staf PPL BPP Kecamatan Maja Lia Asmiyanti,SP dan Kepala Seksi Serealia, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka Dudin Suryadin,SP.

   “Keseluruhan potensi kawasan untuk komoditas jagung ini adalah 3.000 ha, padahal sebelumnya 3.200 ha. Bahkan sesungguhnya hanya tersisa seluas 2.900 ha dari 3.200 ha itu karena alih fungsi lahan untuk peternakan, industri, perkantoran dan perumahan. Khusus untuk budidaya jagung pada musim tanam (MT)-1 maupun MT-2 pada 2023 adalah 2.200 ha. Pola tanam di kawasan ini adalah padi-jagung-jagung karena di wilayah kami adalah sentra jagung. Pihak Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN membantu petani di enam desa dengan pertanaman seluas 50 ha,” ungkap Erwan.

     Menurut dia, irigasi pada MT-3 air tetap ada atau tersedia cukup banyak. Saat ini sudah Oktober dan memasuki MT-1 atau Okt-Mar para petani sudah menanam palawija dan sebagian lagi menanam jagung dan padi. Alam di kawasan ini sangat mendukung untuk tanaman jagung, di mana sepanjang musim ketersediaan air tetap mencukupi. Musim kemarau terik karena dampak dari El Nino tidak berpengaruh di sini.

     Disebutkan, pada 2022 profitas untuk tanaman jagung adalah 7,8 ton per ha dari  beragam varietas. Harga juga termasuk menggembirakan. Kalau harga pada di 2023 ini adalah 6.000 rupiah per kilogram (kg). Petani cukup senang dan bangga mendapatkan harga yang sangat baik dan tinggi. Diharapkan pada panen mendatang harga bisa bertahan atau bahkan meningkat.

   Persoalan yang sempat dihadapi para petani pada musim kemarau ini adalah ulat grayak. Tetapi, setelah dilaksanakan gerakan pengendalian atau gerdal, hal itu dengan mudah teratasi. Sementara hama tikus hingga sejauh ini tidak ada. Jadi, hal itu tidak berpengaruh lagi pada pertanaman jagung yang mencapai dua kali di darat atau tegalan, sementara di bagian persawahan juga dua kali karena pada MT-1 adalah padi yang dilanjutkan pada MT-2 MT-3 dengan jagung.

   Dari segi ekonomis dan harga jual produk jagung lebih menjanjikan dan sangat menggiurkan bagi petani. Memang, ada perubahan pola tanam telah berubah yang sebelumnya padi-padi-jagung sekarang menjadi padi-jagung-jagung. Nah, untuk jagung para petani sudah memiliki kemitraan dengan tengkulak dan itu sudah lama karena petani meminjam uang dari petani.

     “Akibatnya, para petani terjerat dan rugi. Kami berharap prilaku petani akan berubah tidak menjual hasil bumi mereka kepada tengkulak lagi karena harga mereka yang tentukan bukan menguntungkan petani,” kata Erwan

    Biji jagung pipil sebagain besar dijual untuk pakan ternak dan hanya sebagian kecil diolah menjadi penganan berupa emping jagung. Para wanita yang tergabung pada kelompok wanita tani (KWT) yang jumlahnya hanya tiga kelompok di Kecamatan Maja. Untuk batang jagung diolah sebagai pakan ternak sapi dan kerbau berupa silase, sedangkan pipilan kering itu digiling jadi tepung untuk campuran pakan ternak ayam.

    Menurut petani anggota Kelompok Tani Gemulung Desa Cipicung, Kecamatan Maja, Rasmita (64), ssaat ini mengelola 6 ha tanah bengkok atau tanah kas desa serta 3 ha tanah sekretariat desa. Selain itu anggota Kelompok Tani Gemulung yang jumlahnya 52 petani menggarap lahan seluas 25 ha dengan pola dua kali tanam dalam setahun.

    Selain dari lahan seluas 25 ha itu para petani juga menanam jagung pada lahan seluas 50 ha dari enam desa. Untuk Desa Cipicung ada sekitar 10 ha yang dibantu oleh pemerintah melalui BRIN. Saat ini tanaman tersebut tumbuh dengan baik tanpa gangguan hama ulat dan tikus. Dalam umur 100 hari atau 60 hari ke depan semua jagung yang ditanam di Desa Cipicung dengan budidaya swadaya para petani maupun budidaya bantuan BRIN akan panen.

     “Saya menanam jagung sudah beberapa tahun belakangan ini. Ada keuntungan yang saya dapat dengan memilih jagung sebagai tanaman di lahan saya. Untuk pipilan kering harga jagung mencapai 6.500 rupiah per kg, sedangkan pipilan basah adalah 5.500 rupiah per kg. Ini sangat menguntunkan para petani,” kata Rasmita.

    Panen musim panen yang lalu Rasmita mendapatkan 3 ton dengan harga 5.400 rupiah per kg. Adapun luasan lahan milik keluarga adalah setengah bahu atau kalau ditotal untuk satu hektare bisa mendapatkan sekitar 6,6 ton. Keuntungan yang diperoleh selain untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dipakai untuk menyekolahkan 6 orang cucunya karena semua anak-anaknya telah berkeluarga. * sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang