Kab.Subang: Harus Ada Penetrasi Inovasi Pertanian Karena Areal Baru Tak Ada Lagi, Kecuali Milik…
Saturday, 30th September, 2023 | 696 Views

PENCARIAN LAHAN BARU untuk areal pertanian di Kabupaten Subang tidak mungkin lagi karena telah penuh. Artinya, perluasan areal tanaman baru atau  PATB sudah nol, kecuali milik pihak Perusahaan Umum Kehutanan Negara Indonesia (Perum Perhutani) untuk padi gogo, jagung atau kedelai serta umbian. Dengan demikian, para pemangku kepentingan sektora pertanian harus kreatif inovatif menyiasati hal itu.

   Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Tanaman Pangan (PPHTP), Kementerian Pertanian (Kementan) Batara Siagian,SP,MAB ketika memberi sambutan pada acara Panen Padi Kampung Inovasi IPB Subang di Desa Kiarasari, Kecamatan Compreng, Kab.Subang, Provinsi Jawa Barat (Jabar), baru-baru ini.

    Acara panen tersebut diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Cabang Himpunan Alumni (DPC HA) Institut Pertanian Bogor Subang bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Subang dan Pemerintah Kabupaten Subang serta Kementerian Pertanian. Kerjasama tersebut juga didukung oleh pihak produsen mineral penyehat tanah Magne Wish.

    “Kita harus berupaya keras mencari inovasi teknologi untuk meningkatkan produksi padi serta nilai tambahnya agar para petani diuntungkan. Harus ada penetrasi inovasi teknologi pertanian karena areal baru di Kabupaten Subang tidak ada lagi, kecuali lahan milik pihak PT Perhutani. Saya pikir kita pasti bisa,” demikian seruan Batara Siagian,SP,MAB. Hadir dalam acara itu Wakil Bupati Kab.Subang Dr Ir Agus Masykur yang juga Ketua Umum DPC HA IPB Subang, Kepala Dinas Pertanian Kab.Subang Ir Nenden, Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bagor (IPB) Prof.Dr Ir Suryo Wiyono, Ketua Pelaksana Panen Padi Kampung Inovasi IPB Subang Deni Nurhadyansah,SP dan Camat Compreng Endang Herdiana,SE,MSi.

    Menurut Batara, kendati kegiatan budidaya padi hingga panen sekarang merupakan program Kedaireka yang dibiayai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tantangan Indonesia ke depan bisa terbilang sangat berat di sektor pertanian. Tetapi, mungkin juga bisa diringankan karena tergantung bagaimana para stake-holders atau pemangku kepentingan melaksanakan upaya-upaya pengembangan daripada kondisi eksisting (existing) yang telah tersedia saat ini.

    Sebagaimana luas diketahui bahwa Kedaireka merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menautkan kebutuhan kerja mahasiswa dengan industri atau lapangan kerja, di mana mahasiswa dan dosen akan memiliki pengalaman baru di luar kampus dengan berkolaborasi dengan masyarakat petani, nelayan, pelaku usaha mikro dan sebagainya.

  Dia menambahkan bahwa dengan konsidi eksisting itu tantangan yang pertama adalah tantangan ketidakmungkinan mencari lahan baru lagi untuk wilayah Subang. Sementara yang tersedia sekarang hanya lahan baku sawah yang notabene yang hanya bisa ditanami dengan dua kali pertanaman atau dengan indeks pertanaman (IP-2). Walau begitu mungkin juga bisa tiga kali (IP-3), tetapi sangat jarang bisa terjadi sebagaimana terlihat di sepanjang selebar kawasan Subang lahannya telah kering kerontang lantaran tidak ada air.

     “Jadi, memang memang harus melakukan inovasi, dimana satu di antaranya adalah mengoptimalkan lahan yang ada itu. Mungkin tidak harus padi untuk pertanam ke tiga (IP-3), mungkin dengan tanaman lain, seperti jagung atau tanaman yang lain terjadi sirkulasi dan fotosintesa, sehingga metabolisme tanah itu berganti juga,” ungkapnya.

Kesepakatan Membantu Petani

    Berkaitan dengan Kedaireka yang telah dilaksanakan di Kabupaten Subang, kata Batara Siagian, ke depan perlu direncanakan pengadaan jasa. Misalnya, jasa penanggulangan hama dan pemupukan secara moderen dengan melibatkan teknologi canggih. Untuk itu perlu perencanaan matang inovasi teknologi yang memungkinkan dimanfaatkan dalam skala luas.

    Misalnya, demikian Batara menyebutkan, pemakaian pesawat tanpa awak yang kini dikenal dengan drone, tetapi ke depan bukan drone lagi yang dimanfaatkan untuk efisensi dan efektifitas yang lebih tinggi, yaitu pesawat khusus dengan pilot yang terlatih di sektor pertanian. Indonesia termasuk pihak DPC HA IPB harus memasuki domain tersebut sebelum pihak luar negeri dengan cara mereka menyelenggarakannya.

   Pihak Kementerian Pertanian melalui Direktorat PPHTP dalam waktu dekat akan memberikan bantuan gudang yang fungsinya in and out hasi panen, Dengan demikian, ketersediaan beras bisa tertampung dengan maksimal dan diolah di penggilingan yang telah tersedia di sekitar lahan 500 hektare yang ditangani DPC Himpunan Alumni IPB Subang bersama para petani.

    Selain itu, katanya, pihak Direktorat PPHTP akan membawa sistim berjangka kliring atau Resi Gudang (RG) ke Kabupaten Subang. Sistem Resi Gudang (SRG) itu membutuhkan dana yang besar  dengan penyesuaian volume produksi panen. Apabila produksi padi sekitar 1.000 ton dengan harga 10.000 rupiah per kilogram (kg) untuk gabah kering panen (GKP), maka perlu kerjasama dengan beberapa pihak agar gudang itu nantinya berjalan sebagaimana mestinya.

      “Harapan saya di tempat ini…di kampung ini ada inovasi yang menjadi wadah dengan berbagai jenis pengolahan. Bukan hanya bertaninya, tetapi kita juga mampu mengelola beragam jenis pertaniannya. Saya juga berharap ada optimalisasi lahan karena tersedia sumur bor, sehingga tercapai panen yang berlimpah sebagaimana sudah didapat sebesar 9 ton per hektare. Manajemen bisnis yang professional termasuk bagian tak terpisahkan untuk mengawalnya,” katanya.

Penerapan Pupuk Hayati

      Menurut Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementan Batara Siagian, pupuk alami atau hayati juga harus dikembangkan sekaligus diterapkan untuk meningkatkan mutu produksi. Pengembangan pupuk alami mungkin dari sisa jerami dan tanaman lain bisa dimanfaatkan secara maksimal, sehingga dihasilkan kompos untuk keseimbangan komposisi tanah agar semakin sehat atau tidak semakin jenuh serta menambah juga pendapatan petani. *sembada/rori/henry

komentar

You must be logged in to post a comment.

plaza kemitraan

  JUDUL TERSEBUT DI atas sangat menarik disimak. Bahwa para petani punya utang atau hutang sudah jamak diketahui. Tetapi, misalnya mengapa Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Pengantar Redaksi: KONON SAAT INI di Indonesia tidak ada daerah atau desa yang menerapkan pertanian hamparan luas dengan pola pengolahan tanah hingga pemasaran. Satu-satunya yang