Sempat Off Kemitraan SP3T Ciamis Dengan Perum Bulog On Lagi Per September 2019
Tuesday, 24th September, 2019 | 122 Views

KINI ATAU TERHITUNG 1 September 2019 kerjasama antara Sentra Pelayanan Pertanian Terpadau (SP3T) Sukasari Ciamis dengan pihak Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Peum Bulog) sudah on lagi setelah sempat off beberapa waktu. Kondisi tidak bermitra itu antara lain karena harga gabah di pasaran melampaui harga pembelian pokok (HPP) yang ditentukan pemerintah serta gudang Perum Bulog tak mampu menampung lantaran penuh. Pihak SP3T Sukasari Ciamis segera memasok sebanyak 210 ton beras bantuan pangan non tunai (BPNT) kepada pihak Kementerian Sosial melalui Perum Bulog.

     Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (Jabar) Ir Budiawan mengatakan ada kewajiban SP3T Darma Usaha Sukasari Ciamis untuk pengumpulkan gabah sebagai cadangan nasional itu. Khusus untuk kebutuhan BPNT saat ini kembali dipegang oleh pihak Perum Bulog setelah sebelumnya bisa semua pihak yang langsung memasok ke Kementerian Sosial. Kalau untuk memenuhi kebutuhan Bulog masih yang strandar premium  dengan harga 8.800 rupiah per kilogram (kg).

      Disebutkan, pada 2018 para petani di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis mendapat bantuan fasilitas  alsintan berupa alat pemisah warna beras. Sebab, beras premium terlihat putih mulus  tidak ada campuran warna lain, seperti kuning apalagi warna hitam. Melalui mesin tersebut permintaan pasar atau konsumen bisa dilayani, beras seperti apa yang dibutuhkan bisa dipoles karena alat untuk itu sudah tersedia di SP3T Darma Usaha yang dikelola oleh Kelompok Tani (Kopan) Darma Usaha.

        “Para petani telah bisa melayani permintaan beras seperti apa saja karena alat sudah tersedia dari Pemerintah Pusat melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan atau Dit.PPHTP Kementerian Pertanian,” demikian cerita Budiawan yang didampingi oleh Kepala Seksi Perbenihan, Pengolahan dan Pemasaran, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab.Ciamis Ir Yayu Rahayu,MP.

         Budiawan bercerita tentang bangunan SP3T di Desa Sukasari, Kecamatan Banjarsari, Ciamis itu ternyata kapasitasnya kekecilan. Kalau sedang berproduksi, tempat penyimpanan gabah yang siap dikeringkan di vertical drayer  dengan hasil yang akan masuk ke mesin penggilingan atau rice milling unit atau RMU gudangnya sudah sangat. Artinya, semestinya gudang harus terpisah atau jangan disatukan antara tempat beras dan tempat gabah, sehingga lingkungan bekerja kurang nyaman.

     “Kami sudah sampaikan hal itu kepada pihak Direktorat Pengolahan di Kementan. Mungkin tambahan kapasitas gudang akan ditambah dalam waktu dekat. Karena ini kan masih tergolong baru dan masih pengembangan, namun biarlah konsentrasi dulu untuk pemanfaatan alat yang sudah ada semaksimal mungkin,” demikian Budiawan.

       Dia menambahkan bahwa apabila merujuk pada kesehatan pangan, maka beras terkupas awal itulah yang sehat dikonsumsi atau tidak perlu dipoles lagi. Namun, itulah manusia  khususnya Indonesia sekarang ini yang mengingingkan beras yang harus terlihat bersih dan bening, padahal gizinya sudah hampir tidak ada lagi.

 

Masih Terbiasa Tidak Jual Gabah Kering Panen

          Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis Ir Budiawan menuturkan bahwa pihak produser beras di SP3T Sukasari ternyata mereka membutuhkan lantai jemur. Adapun alasannya adalah karena di Wilayah Priyangan Timur  terutama Ciamis tidak ada petani yang jual padi gabah kering panen atau GKP. Sebab, budaya masyarakat petai di daerah ini adalah padi sudah dikeringkan dulu lalu disimpan beberapa waktu di rumah kemudian barulah dijual.

        “Memang dilihat dari segi ketahanan pangan justru yang seperti itu lebih baik dan berguna menjaga kemantapan cadangan atau stock stability pangan, di mana waktu paceklik  petani tidak kekurangan bahan pangan terutama beras karena persediaan padi masih ada di gudang atau lumbung petani,” demikian tambahan dari Yayu Rahayu sembari menyebutkan bahwa kalau dari segi bisnis lebih menguntungkan jual-beli gabah kering panen atau GKP daripada gabah kering giling atau GKG.

      Ia juga memaparkan bahwa para petani sangat membutuhkan lantai jemus karena petani mempunyai pola pikir tersendiri tentang hasil panen, yaitu GKP, GKG dan gabah kering simpan atau GPS. Artinya, dari GKP harus menjadi GKS barulah gabah kering giling atau GKG itu. Atas kondisi demikian itulah para petani membutuhkan lantai jemur yang lebih memadai atau lebih luas, di mana apabila kelembaban padi masih 17 persen tentu berisiko kalau disimpan lama.

       Sebab, menurut Yayu Rahayu, padi penenan petani itu kadar airnya tidak sama karena ada yang 15 persen atau 17 persen atau di atasnya akan berpengaruh pada mutu dan sulit menghitungnya waktu kalau masuk ke mesin pengering. Jadi, kalau pihak pengelola SP3T mempunyai lantai jemur, paling dijemur sejam atau dua jam untuk menyamakan kadar airnya.Kalau sudah sama kadar airnya masuk ke dalam mesin pengering kadar air lebih seragam dan juga mempersingkat waktu proses pengeringannya.

Mutu Bisa Turun Di Musim Kemarau

          Kenapa pada musim kemarau justru mutu padi malah turun? Ada apa gerangan? Pada musim kering seperti sekarang kalau gabah dimasukkan ke dalam mesin pengering malah kualitas beras akan turun karena pecah atau broken lebih banyak bahkan beras jadi hancur. Gabah terlalu kering kalau digiling malahan akan banyak menir yang dihasilkan, sehingga agak merugi dari segi bisnis beras.

        Jadi, untuk mengantisipasi kondisi seperti itu suhu di dalam mesin drayer itu dinaikkan pelan-pelan agar broken tidak terlalu banyak. Kapasitas mesin pengering atau drayer yang ada sekarang  10 ton dalam sekali proses 8 jam hingga 12 jam. Nah, daripada melalui pengaturan seperti itu adalah lebih baik kalau menjemur gabah itu sebentar di lantai jemur kemudian diolah menjadi beras bermutu baik. *sembada/henry/rori

komentar

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

  PARA ANAK MUDA itu bernama Mukhtar Luthfi (24) dan Ade Siti Mulyati yang berniat besar mendampingi petani dan ingin jadi wira usaha muda di