Petani Muda Ikin Sodikin: Varietas Ciherang dan Mekongga Masih Dipakai Karena Hasil Masih Banyak
Wednesday, 19th August, 2020 | 143 Views

KENDATI SUDAH RENTAN terhadap hama dan penyakit, para petani di berbagai daerah masih menanam padi dari varietas unggul lama (VUL) Ciherang dan Mekongga. Sudah beberapa tahun terakhir ini pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melepas varietas unggul baru (VUB) Inbrida Padi Sawah Irigasi (Inpari)-31, Inpari-32, 33 dan Inpari-42. Alasan petani memakai VUL karena hasilnya masih banyak atau menggembirakan.

         Demikian diungkapkan oleh Ikin Sodikin (50), Ketua Kelompok Tani Babakan Sari kepada Media Pertanian online www.sembadapangan.com di pinggir sawahnya yang sedang dipanen di Desa Babakan Sari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (Jabar). Sodikin menggerakkan 40 petani untuk menggarap lahan sawah beririgasi seluas 24 hektare (ha) di desa mereka.

       Ikin Sodikin berseru bahwa dalam kelompok itu dia merupakan petani termuda karena para petani lainnya sudah berusia di atas 55 tahun. Bahkan ada yang berusia di atas 60 tahun. Pada musim tanam (MT) April-September atau MT II sekarang kelompoknya langsung ikut Gerakan Percepatan Olah Tanah atau GPOT tanpa jeda.

      “Kami langsung ikut GPOT serentak dengan para petani dari desa dan kecamatan lain seusai panen. Memang masih ada panen di beberapa desa, sebagaimana di desa kami. Lahan saya saja belum selesai dipanen,” Sodikin menambahkan seraya mengatakan bahwa saat ini tinggal sekitar 15 persen atau beberapa hektare lagi yang belum dipanen karena menunggu waktunya seminggu dua minggu lagi dan langsung diolah.

        Menurut dia, luasan sawah yang sudah selesai dipanen sedang ditanami padi. Para anggota masih menyukai varietas padi Ciherang dan Mekongga lantaran hasilnya baik atau tidak kalah dengan varietas yang terbaru, seperti Inpari-32. Walaupun Ciherang maupun Mekongga mudah terserang hama, seperti wereng cokelat atau penggerek batang ataupun penyakit blas dan kresek, namun petani masih banyak menyukai varietas itu.

         “Selain profitas hasilnya masih banyak, nasi dari beras Ciherang atau Mekongga rasanya enak. Memang para penyuluh atau PPL telah wanti-wanti kepada semua petani bahwa varietas itu sudah tidak direkomendasikan lagi. Tetapi, karena berbagai keuntungan para petani tetap menyenangi varietas tersebut. Mungkin lambat-laun petani akan meninggalkan varietas itu seiring dengan pengalaman mereka menanam padi unggul baru,” kata Ikin Sodikin.

Tani Tinggal Daki Dagang Tinggal Hutang

       Mengapa masih dapat benih Ciherang Mekongga? Sodikin bercerita bahwa sesuai pengalaman petani, padi Ciherang dan Mekongga itu dibenihkan sendiri lagi untuk ditanam pada musim tanam berikutnya. Sebab, kenyataannya di balai benih atau di Dinas Pertanian tidak ada lagi benih Ciherang dan Mekongga, sehingga petani berinsiatif sendiri memilih biji terbaik untuk benih.

       Disebutkan pula bahwa untuk musim tanam saat ini Kelompok Tani Babakan Sari mendapat bantuan benih Inpari-32 sebanyak enam kuintal atau 600 kilogram (kg). Semula itu diharapkan bisa mencukupi, tetapi kenyataannya ada kekurangan, sehingga petani perlu membeli benih itu seharga 60.000 rupiah per kantung.

      Menurut Ikin Sodikin, dari 25 orang anggota petani yang dibinanya sebagian pemilik sawah, tetapi sebagian lagi mengolah sawah milik juragan dari tempat lain. Namun, sebanyak 75 persen sawah yang ada di desa itu adalah milik orang lain. Ikin Sodikin saja hanya memiliki lahan sawah sekitar 50 tumbak atau sekitar 700 meter persegi. Hasil dari lahan tersebut dicukup-cukupkan untuk keperluan keluarga dengan dua anak. Dan hal yang penting selain untuk makan, ada buat biaya anak sekolah. Itu sudah disyukuri. Di desa itu ada istilah para petani TANI TINGGAL DAKI, DAGANG TIMBUL HUTANG. Diantepke baelah…yang artinya HASIL TANI TIDAK SEBERAPA diterima saja, apalagi tidak ada bantuan. *sembada/henry/rori

komentar

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

UKURAN MUTLAK BAGI anak didik menghadapi kompetisi global adalah kecerdasan dan kreativitas. Untuk itu mutu pendidikan anak didik harus ditingkatkan agar memunculkan kecerdasan dan mendorong