Kedelai Petani Indonesia Riwayatmu Kini….!
Monday, 7th September, 2020 | 118 Views
|
Oleh Dr Atris Suyantohadi (Peneliti Kedelai Fakultas Teknologi Pertanian, Univ.Gadjah Mada, Yogyakarta)
Dr Atris Suyantohadi (Foto:sembada-dok)

Dr Atris Suyantohadi (Foto:sembada-dok)

KOMODITI PANGAN, kedelai sebagai sumber protein nabati di tanah air sudah tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di tanah air, kedelai (Glycine max) sebagian besar atau mencapai 70 persen diolah menjadi tempe dan tahu. Sisanya sebagian diolah menjadi produk pangan yang lain, seperti kedelai goreng, kecap, susu kedelai, soygurt maupun taocho.

     Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang meningkat, kebutuhan kedelaipun mengalami kenaikan yang cukup signifikan setiap tahun, dimana pada 2020 ini diperkirakan mencapai 3,8 juta ton.  Sepanjang 2015 kebutuhan kedelai Nasional sudah di kisaran 2,6 juta ton, sehingga  dalam lima tahun terakhir dari 2015-2020 secara Nasional peningkatan kebutuhan kedelai  tersebut mencapai angka 45 persen.

      Namun, dalam lima tahun terakhir dari 2015 hingga 2020 kinerja produksi kedelai Nasional di tanah air tidak mengalami peningkatan, tetapi sebaliknya mengalami penurunan yang cukup tajam dari Produksi Nasional 963.000 ton di tahun 2015 menjadi 134.000 ton di tahun 2020.  Dominasi kedelai impor yang memenuhi pasaran di dalam negeri menunjukkan banyak kelemahan dan ketidakberdayaan produksi Nasional dalam meningkatkan upaya produksi Nasional menuju swasembada pangan kedelai. Ketergantungan pemenuhan kebutuhan kedelai Nasional yang sangat tinggi pada importasi kedelai dari luar negeri jelas akan tidak baik dalam menunjang ketahanan pangan Nasional.

     Mengurai faktor yang menjadikan produksi kedelai Nasional yang makin melemah dan semakin tidak berdaya, saat sekarangpun menjadi kondisi yang kompleks lepas akibat berbagai kepentingan. Faktor harga jual yang rendah dari panen kedelai menjadikan pemicu utama petani sangat enggan menanam kedelai.

      Dalam lima tahun terakhir atau dari 2015 hingga 2020 kinerja kedelai petani nasional nasional makin menurun. Pada 2015 luas lahan kedelai hanya 690.589 hektare (ha), pada 2016 (536.176 ha), 2017 (469.537 ha), 2018 (747.030 ha) dan 2019 seluas 204.974 ha serta pada 2020 seluas 94.943 ha. Kemudian produksi yang didapat petani pada 2015 adalah 964.183 ton, pada 2016 (859.633 ton), pada 2017 (538.728 ton), pada 2018 (650 ton), pada 2019 sebanyak 424.189 ton dan pada 2020 hanya sebanyak 134.623 ton.

       Harga jual kedelai petani saat panen bisa anjlok mencapai 6.000 rupiah hingga 6.500 rupiah per kilogram. Kalau menilik Peraturan Menteri Perdagangan No.7 Tahun 2020 telah diamanatkan bahwa harga acuan kedelai lokal sebesar 8.500 rupiah per kilogram dan harga di tingkat konsumen sebesar 9.200 rupiah per kilogram. Dengan demikian, sudah semestinya antara peraturan dan kondisi di lapangan yang tidak sesuai inipun perlu dikaji kembali lebih mendalam.

Di mana Komitmen Pemerintah?

       Di samping itu faktor kualitas benih bantuan yang rendah dari Pemerintah yang diterima oleh para petani, teknologi budidaya di tingkat petani yang belum dilaksanakan secara optimal masih terkesan seadanya telah menjadikan produksi kedelai, seperti varietas Grobogan yang potensi hasilnya bisa mencapai 4,2 ton per hektare mejadi rata-rata di tingkat petani masih di bawah 1,7 ton per hektare.

      Demikian juga pada faktor pemasaran dari hasil panen kedelai Nasional yang berbeda dengan harga kedelai impor. Kalau tetap merujuk Permendag No.7 Tahun 2020, maka kedelai impor di pasaran seharusnya sebesar 6.550 rupiah per kilogram di tingkat pedagang dan sebesar 6.800 rupiah per kilogram di tingkat konsumen/pengrajin. Pasar kedelai lokal yang harganya lebih tinggi sesuai peraturan pemerintah di atas memerlukan segmen yang berbeda dengan pasar kedelai lokal dari sisi harga. Akankah kedepan nanti, kedelai lokal menjadi riwayatmu kini, seperti syair lagu Bengawan Solo yang digubah oleh Gesang?

     Hal ini tentunya telah menjadikan Pemerintah sebagai pemangku kepentingan dalam hal ini Kementrian Pertanian mencarikan langkah-langkah strategis dan menyusun kembali grand design kedelai untuk ditumbuhkan kembali secara bertahap di Tanah Air.  Tentunya peningkatan produksi kedelai Nasional yang makin terlihat dari tahun ke tahun harus diutamakan.

    Bukan malah sebaliknya kedelai lokal makin menyusut dan menghilang dari tanah air, sementara produk kedelai impor makin menguasai pasar Indonesia. Kalau begini patut dipertanyakan commitment Pemerintah Indonesia terhadap sektor pertanian dan petani Indonesia setelah negara ini merdeka selama 75 tahun. Komitmen Kementerian Petanian meragukan? Belum tentu. Tapi, boleh jadi meragukan. Atau optimis? Sulit dipahami. Buktinya….? *

komentar

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

HINGGA MENJELANG AKHIR 2020 ini pihak Universitas Nasional (Unas) tetap konsisten mengadakan pengabdian kepada masyarakat. Hal itu merupakan cerminan menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi, dimana