Kalau Perang Berkecamuk Tanpa Diminta Anda Tak Peduli Sawah Ladang dan Toko
Friday, 11th September, 2020 | 115 Views
|
Oleh Yoweri Kaguta Museveni (Pidato Presiden Uganda Untuk Rakyatnya Remehkan Korona)

 

Presiden Uganda Yoeri Kaguta Museveni (Foto:sembada/dok)

Presiden Uganda Yoeri Kaguta Museveni (Foto:sembada/dok)

KENDATI GUSAR PRESIDEN Uganda Yoweri Kaguta Museveni dengan lantang dan tegas memperingatkan rakyatnya yang bersikap meremehkan wabah  COVID-19. Presiden Yoweri berseru: “TUHAN PENCIPTA LANGIT dan bumi serta segala isinya memiliki banyak pekerjaan. Dia, TUHAN, memiliki seluruh dunia untuk dijaga. Dia, TUHAN,  tidak bisa hanya berada di Uganda mengurusi orang-orang idiot…”

       Dalam situasi perang tidak ada yang meminta siapa pun untuk tetap di dalam rumah. Anda tetap di dalam ruangan sebagai pilihan terbaik tanpa ada yang meminta. Bahkan jika anda memiliki ruang bawah tanah, anda bersembunyi di sana selama peperangan itu berlangsung. Selama perang itu anda tidak menuntut kebebasan apa pun untuk anda. Anda rela menukarkan kebebasan anda itu demi bertahan hidup.

     Selama perang  anda tidak mengeluh kelaparan. Anda sabar menahan  kelaparan dan berdoa agar anda masih hidup untuk bisa makan lagi. Selama perang anda tidak berdebat tentang membuka bisnis anda. Anda bahkan menutup toko anda (jika anda masih sempat dan punya waktu) dan kemudian berlari untuk menyelamatkan hidup anda.

       Anda berdoa agar hidup lebih lama dari perang, sehingga anda kelak dapat kembali melakukan bisnis anda (jika belum dijarah atau dihancurkan oleh tembakan mortir). Selama perang anda bersyukur kepada Tuhan karena masih sempat melihat matahari esok sebagai orang yang ternyata masih hidup. Selama perang anda tidak merasa  perlu untuk khawatir tentang sekolah anak-anak Anda. Akan naik kelas atau tinggal kelas.

      Anda berdoa agar pemerintah tidak memaksa anak anda itu sebagai tentara untuk dilatih di gedung sekolah yang diubah  menjadi pangkalan militer untuk menghadapi perang yang berkecamuk. Ketahuilah bahwa dunia saat ini dalam keadaan perang, yaitu perang tanpa senjata dan desingan peluru. Kini ada perang tanpa tentara manusia. Perang tanpa batas. Perang tanpa perjanjian gencatan senjata. Perang tanpa medan tempur dan tanpa melihat tempat suci.

Panen Kematian

     Ketahuilah bahwa tentara dalam perang ini tanpa belas kasihan. Musuh kita tak punya “sisi baik” kemanusiaan. Tidak punya rasa manusiaw. Musuh kita bersikap kejam luar biasa. Amat keji. Tidak menghormati anak-anak maupun wanita. Bahkan tidak akan menghormati tempat peribadatan. Tentara ini tidak tertarik pada rampasan perang. Tentara musuh kita hari ini  tidak memiliki niat untuk mengganti  rezim pemerintahan yang sah. Tidak. Tidak peduli dengan sumber daya alam di dalam bumi.

    Bahkan musuh kita sekarang tidak tertarik pada hegemoni agama, etnis atau ideologis. Ambisinya tidak ada hubungannya dengan superioritas atau keunggulan ras atau kelompok. Tentara musuh kita ini adalah pasukan yang tak terlihat, cepat, dan efektif tanpa ampun. Agenda satu-satunya adalah panen kematian. Tentara itu  hanya merasa puas setelah mengubah dunia menjadi satu daerah kematian besar.

     Kemampuannya untuk mencapai tujuannya tidak diragukan. Tanpa tank darat, mobil amfibi dan tanpa pesawat. Tentara musuh kita memiliki basis di hampir setiap negara di dunia. Gerakannya tidak diatur oleh konvensi atau protokol perang apa pun. Singkatnya, tentara itu mengikuti aturan yang ia buat sendiri untuk kepentingannya. Tentara musuh kita itu adalah Virus Korona. Juga dikenal sebagai COVID-19.

     Namun demikian, kita patu bersyukur bahwa pasukan VIRUS KORONA ini masih memiliki kelemahan dan pasti bisa dikalahkan. Untuk mengalahkannya hanya dibutuhkan tindakan, disiplin dan kesabaran kita bersama. COVID-19 tidak dapat bertahan jika ada jarak sosial dan fisik. Tentara itu  hanya tumbuh subur dan kuat jika anda menemuinya. Tentara musuh kita itu senang jika dihadapi secara fisik.

      Tentara itu akan menyerah jika kita bisa menghadapinya dengan melakukan social distancing dan physical distancing secara bersama-sama.  Tentara itu akan membungkuk tunduk jika kita melakukan pola kebersihan hidup pribadi yang baik. Tentara itu akan tidak berdaya ketika anda menyadari bahwa keselamatan anda kini sedikit banyak ada di tangan anda sendiri dengan menjaganya agar tetap bersih dan sesering mungkin mencucinya.

Patuhi Perintah Pemerintah

     Ini bukanlah  saatnya bagi kita untuk menangis tentang roti dan mentega seperti anak-anak manja. Lagi pula KITAB SUCI memberi tahu kita bahwa manusia tidak akan hidup dari roti saja. Mari kita patuhi dan ikuti instruksi pihak berwenang. Mari kita ratakan kurva COVID-19. Ayo berlatih sabar. Mari menjadi penjaga saudara kita. Dalam waktu singkat kita akan bisa mendapatkan kembali kebebasan. Bisa buka toko. Buka usaha dan kehidupan sosial kita.

       Kebebasan kita untuk berkumpul. Percayalah itu. Turuti instruksi pemerintah anda. Di tengah keadaan DARURAT PERANG INI kita perlu mempraktikkan pelayanan yang SANGAT PENTING dan cinta untuk orang lain maupun keluarga yang AMAT PENTING. Kunci sukses kita adalah pada kepatuhan. Ketaatan. Kita harus peduli kepada sesasama. Jangan bersikap idiot. Para idiot akan merana dan mati karena ketidakpatuhan dan ketidaktaatannya oleh musuh Virus Korona itu. Kalau kita tidak idiot, mari kita patuhi instruksi pemerintah.*

komentar

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

HINGGA MENJELANG AKHIR 2020 ini pihak Universitas Nasional (Unas) tetap konsisten mengadakan pengabdian kepada masyarakat. Hal itu merupakan cerminan menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi, dimana