Kadis TPH Prov.Kalsel: Ternyata Program Serasi Tepat Karena Lahan Lain Makin Kurang
Saturday, 9th November, 2019 | 209 Views

TERNYATA PROGRAM SERASI tepat adanya di lahan rawa karena Indonesia tidak mempunyai lahan untuk perluasan pertanaman lagi. Bahkan kini lahan pertanaman sudah makin berkurang di berbagai daerah disebabkan alih fungsi untuk industri, perumahan dan jalan. Kebutuhan pangan  terutama beras ke depan akan tersedia dan terjawab dari rawa.

     Pernyataan di atas disampaikan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) Ir Syamsir Rahman,MM kepada Media Pertanian online ww.sembadapangan.com di kantornya di Banjarbaru, Kalsel, baru-baru ini. Kepada Syamsir ditanyakan seputar peluang lahan rawa untuk vegetasi tanaman pangan.

        Menurut Syamsir, serasi itu adalah program yang sangat bagus. Namun, secara menyeluruh program itu harus disiapkan sejak jauh hari mulai dari kematangan perencanaannya, sumber daya manusia, sarana prasarana serta penanganan out put yang bakal dituju. Kalau dilihat faktanya, ternyata program tersebut sangat tepat karena Indonesia tidak mempunyai lahan lagi untuk perluasan lahan pertanaman pangan. Bahkan saat ini yang terjadi adalah pengurangan lahan yang telah beralih fungsi menjadi tempat gedung, perumahan, perkantoran serta tempat pabrik.

      “Dari sisi daerah, sejak 2015 Kalimantan Selatan sudah mendapat kelebihan pangan atau surplus. Kalimantan Selatan ini adalah penyangga beras nasional urutan ke-10. Nah, kelak kalau ibu kota Indonesia pindah ke Kalimantan Timur, maka penyangga beras untuk penduduk di ibu kota itu nantinya adalah Kalimantan Selatan. Dan tentu saja itu akan didapat dari pertanaman padi di  rawa,” Syamsir menegaskan seraya menambahkan bahwa beberapa waktu lalu dia mencermati proyek pertanaman Program SERASI bersama para pejabat pemerintah pusat ke beberapa lokasi hamparan rawa.

        Disebutkan pula bahwa peruntukan Program SERASI di Kalimantan Selatan mencapai 120.000 hektare (ha), dimana konstruksi berupa sarana, prasarana dan akses ke lokasi rawa telah selesai 90 persen atau mencapai 95.000 ha. Artinya, begitu hujan turun, pengolahan lahan yang terakhir akan segera dilaksanakan dengan manabur kapur dolomit dan selanjutnya menabur benih yang telah tersedia di rumah petani. Adapun bantuan pemerintah untuk pengolahan mencapai 4,3 juta rupiah per ha dan langsung dimasukkan ke tabungan para petani.

      Selanjutnya Syamsir Rahman berkata: “Program SERASI itu akan meningkatkan indeks pertanaman dari sekali setahun menjadi dua kali setahun atau IP-2. Saya sangat optimis tujuan utama meningkatkan produksi padi-beras ke IP-2 itu bisa terlaksana. Sebab, petani tidak mencangkul lagi dan tidak membajak sawah lagi dengan kerbau melainkan dengan mesin yang kuat. Dengan inovasi teknologi. Pastilah hemat tenaga, waktu dan biaya. Pokoknya saya optimis. Itu sudah. Optimis…saya…!”

          Disebutkan bahwa pada panen terakhir di lahan rawa yang diikutkan pada Program SERASI itu profitasnya mencapai 4,6 ton per ha. Itu dihasilkan oleh padi unggul varietas Inbrida Padi Rawa atau Inpara-7 yang kuat terhadap genangan. Mengalami kenyataan ini para petani senang dan bersuka-cita bersyukur ramai-ramai.

Untuk Petani Untuk Ketahanan Pangan Nasional

         Kenapa hasilnya bagus? Ada apa gerangan? Sebab, Syamsir Rahman menuturkan, para petani menanam dengan hati. Bukan dengan otot saja. Semua pihak memulainya dengan bersyukur menyerahkan tanaman yang bernyawa itu kepada Maha Pencipta dan pada waktunya akan diberkati kelimpahan hasil panen.

       Menurut dia, supaya sektor pertanian Indonesia gemilang atau sukses, maka para pejabat harus rela tidur bersama petani. Atau dengan kata lain para pejabat atau pegawai negeri yang berkecimpung di sektor pertanian harus iklas mencium atau mengendus keringat petani yang ‘penguk’ dan kecut. Sebab, badan petani itu memang berkeringat karena bekerja keras. Dan kalau dibilang badan petani tidak wangi, memang bau petani harus seperti apa?

        “Nah, kalau ingin makan hasil pertanian atau semasih makan hasil kerja keras petani, maka kita harus merangkul mereka. Itu juga untuk mendorong petani sukses. Berarti pemerintah sukses. Kini saya bekerja dan bertugas di sektor pertanian dengan subsektor hortikultura atau sayur-mayur dan buah serta tanaman pangan berupa padi, jagung dan kedelai serta umbi-umbian,” Syamsir Rahman berseru.

         Lalu apakah Syamsir tidur dengan petani? Sudah tidur? Di mana gerangan? “Waah…sungguh, andai tidak ditanyakan hal itu, saya sejak tadi akan tegaskan bahwa saya sudah tidur dengan petani. Tidak saya gembor-gemborkan itu. Dan pasti akan tidur lagi. Tidur, bangun lalu minum kopi sambil makan ubi rebus kacang rebus. Di manakah…? Ya di gubuk petani itu. Gubuk SERASI untuk ketahanan pangan nasional dari Kalimantan Selatan.” *sembada/henry/rori

komentar

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

  PARA ANAK MUDA itu bernama Mukhtar Luthfi (24) dan Ade Siti Mulyati yang berniat besar mendampingi petani dan ingin jadi wira usaha muda di