Dengan Racun Kontak: Serangan Wereng Lewati Ambang Batas Toleransi Harus Dikendalikan
Wednesday, 14th October, 2020 | 174 Views

 

SERANGAN HAMA SEKARANG sudah melewati ambang batas toleransi, maka pengendalian hama wereng batang cokelat atau WBC mutlak dilaksanakan. Pengendalian itu untuk memberantas hama yang akan mengganggu produksi padi ketika panen, hingga pada tingkat kurang dari 10 ekor hama pada satu rumpun tanaman padi. Sebab, saat ini hama WBC telah mencapai ribuan ekor pada rumpun padi dan sudah membahayakan produksi pangan.

      Itulah pengantar wejangan yang disampaikan oleh Akhmad Payumi,SP kepada para petani anggota Kelompok Tani Harapan Mulya menjelang pengisian tanki dengan racun untuk disemprotkan ke batang tanaman padi. Akhmad adalah Petugas Pengendali Organisme Penganggu Tanaman Pangan (PPOPTP) Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Akhmad mendampingi PPOPTP Kecamatan Carita Asmara Wijaya yang kebetulan berhalangan karena ada tugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang.

      “Dalam kesempatan ini kita sudah ada alat dan bahan untuk mengendalikan hama tersebut. Di depan kita ada racun yang cukup ampuh, yaitu yang  berbahan aktif BBMC atau biasa kita sebut sebagai racun kontak,”ungkap Akhmad di hadapan puluhan petani yang menggarap lahan seluas 50 hektare (ha) di Desa Sukarame, Kecamatan Carita.

       Menurut Akhmad, untuk pengendalian hama WBC ada satu teknik yang harus dilakukan. Apabila menemukan wereng batang cokelat melebihi ambang batas pengendalian di masa vegetatif 10 ekor tiap rumpun, maka harus segera diberantas dengan pengendalian terukur. Di Desa Sukarame hama WBC itu sudah sangat ramai alias sudah tidak terhitung lagi populasinya pada satu rumpun tanaman padi.

Mengendalikan Hama Wereng

     Selanjutnya Akhmad Puyami mengatakan bahwa cara pengendalian hama wereng batang cokelat itu apabila jumlah atau populasinya tidak terhitung lagi adalah menggunakan racun kontak. Cara seperti itu sangat dianjurkan untuk menurunkan populasi di saat sudah melebihi ambang batas. Dalam pengendalian di saat posisi wereng telah melebihi ambang batas, maka air yang ada di sawah harus dikuras atau tidak tergenangi lagi.

      “Hasil penelitian kenapa harus dikeringkan seusai penyemprotan adalah bahwa hama WBC yang pusing atau loyo dan jatuh ke genangan air, maka wereng itu bisa mandi lagi dan terbasuh lalu kuat. Itulah sebabnya racun kontak itu harus tetap di badan hama wereng selama beberapa puluh menit. Nah, kalau hama itu terbasuh air tentu tidak jadi mati dan akan kembali menggeroyoti batang padi,” Akhmad menambahkan.

Tanki 15 Liter Dicampur 250 Mililiter Racun

     Langkah penting pencampuran racun kontak dengan air adalah harus mengikuti dosis yang tepat. Untuk dosisnya adalah satu liter racun kontak dilarutkan dulu dengan 5 liter air, sedangkan untuk satu tanki bermuatan 15 liter, racun kontak yang telah dilarutkan itu campurannya sebanyak 250 mililiter. Untuk luas lahan 1 ha diperlukan 2 liter racun kontak atau dicampur dengan air biasa sebanyak 10 liter sebagai pelarut.

      “Sekali lagi air yang telah dilarutkan menjadi 10 liter itu diambil sebanyak 250 mililiter untuk satu tanki air berisi 15 liter kemudian disemprotkan ke tanaman. Begitu seterusnya hingga selesai satu hektare dengan memakai 40 tanki sekaligus atau disesuaikan dengan jumlah tenaga dan alat penyemprot,” demikian Akhmad Puyami.

      Disebutkan bahwa tahap pertama ketika proses pemyemprotan itu HARUS BERDOA TERLEBIH DULU. Alasannya, para petani tidak membunuh hama wereng tersebut atau memusnahkan sesama makhluk hidup itu melainkan mengurangi saja agar tidak membahayakan. Artinya, bisa saja tetap ada yang tersisa untuk hidup. Jadi, hal yang dilakukan petani adalah pengendalian agar tidak berlebihan pada satu rumpun tanaman padi yang bisa membahayakan ketahanan pangan masyarakat.  *sembada/henry/rori

komentar

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

HINGGA MENJELANG AKHIR 2020 ini pihak Universitas Nasional (Unas) tetap konsisten mengadakan pengabdian kepada masyarakat. Hal itu merupakan cerminan menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi, dimana