Bibit Domba Komposit: Untuk Bisnis Menggiurkan
Monday, 5th October, 2015 | 89 Views
Bibit Ternak Unggul. (Foto/sembada/ist)

Bibit Ternak Unggul. (Foto/sembada/ist)

Pastilah tidak kekurangan daging pada masa-masa hari raya besar ataupun pada hari-hari biasa. Kenapa gerangan? Coba kita salami, dengan bibit unggul Domba Komposit Sumatera, dipelihara oleh peternak beberapa ekor saja, maka kebutuhan daging bagi setiap keluarga akan terpenuhi. Saat ini jumlah petani Indonesia mencapai 22 juta kepala keluarga (KK).

Kalau 10 persen (2,2 juta KK) saja memelihara domba ini, misal mulai Januari 2016, maka akan didapatkan sebanyak 2,2 juta ekor pada akhir tahun depan. Kemudian beranak pada akhir 2016, maka domba itu akan menjadi 4,4 juta ekor pada 2017. Bagaimana bisa terjadi?

Nah, kini telah sukses gemilang inseminasi buatan (IB) oleh pemeritah dan itu telah disalurkan ke semua daerah (provinsi). Dengan cara itu diharapkan dan dipastikan daging bisa terpenuhi dan harga tetap normal bagi konsumen, namun bagi petani bisalah naik bahkan lebih mahal agar ada peningkatan tarah hidup melalui perekonomian.

Bisnis Menggiurkan

Info penting dan perlu, sekitar 10 tahun lalu konsumen domba/kambing di kawasan Timur Tengah memerlukan paling sedikit—diulangi paling sedikit—50.000 atau lima puluh ribu ekor kambing setiap bulan dari Indonesia. Lalu apa yang terjadi? Ternyata, Indonesia tidak bisa memenuhinya, padahal itu akan bisa menarik devisa untuk mendorong ekonomi masyarakat. Dan memang dampaknya “agak buruk” bagi konsumen Indonesia? Kurang lebih pada saat ini kebutuhan Timur Tengah masih seperti di atas.

Apakah itu? Dari perhitungan Kementerian Pertanian, apabila permintaan Timur Tengah dipenuhi dengan mengekspor (menjual) kambing yang ada, maka selama satu tahun—diulangi: selama satu tahun—Indonesia tidak akan makan sate. Tentu, mana tahanlah. Nah, mari beramai-ramai memelihara kambing, sehingga dalam dua tahun atau sekitar 2017 kita mengekspor minimal 50.000 ekor ke Timur Tengah. Ini bisnis menggiurkan. Ini pasti.  *sembada/mare

berita terkait

komentar

plaza kemitraan

  HEMAT KAMI KINI condong untuk mengatakan bahwa frase mimpi  tidak lagi saat tidur. Bisa saja saat kerja atau saat minum kopi. Atau saat bergurau

  PARA ANAK MUDA itu bernama Mukhtar Luthfi (24) dan Ade Siti Mulyati yang berniat besar mendampingi petani dan ingin jadi wira usaha muda di